Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Pemberontakan Jayakatwang: Akhir Tragis Kerajaan Singhasari

Mengisahkan pemberontakan Jayakatwang dari Kediri yang berhasil menumbangkan Kertanagara, mengakhiri kekuasaan Kerajaan Singhasari.

Mengisahkan pemberontakan Jayakatwang dari Kediri yang berhasil menumbangkan Kertanagara, mengakhiri kekuasaan Kerajaan Singhasari.

Jayakatwang, raja Kediri yang berwibawa namun menyimpan dendam dan rencana licik. ChatGPT
Jayakatwang, raja Kediri yang berwibawa namun menyimpan dendam dan rencana licik. ChatGPT

Prolog

Tahun 1292 menjadi lonceng kematian bagi Singasari. Di saat Sri Kertanagara sibuk dengan ambisi besar menyatukan Nusantara, ia tak menyadari bahwa bahaya besar sedang mengintai dari dalam tanah Jawa sendiri. 

Merujuk pada catatan Slamet Muljana dalam buku Menuju Puncak Kemegahan, pertahanan Singasari saat itu berada dalam posisi yang sangat rentan karena sebagian besar pasukan terbaiknya sedang dikirim ke luar Jawa dalam ekspedisi Pamalayu. 

Singasari yang tampak perkasa dari luar sesungguhnya hanyalah sebuah puri yang melompong di bagian dalam, menunggu satu pemantik kecil untuk runtuh selamanya.

Jayakatwang, Sang Raja Kediri yang Dendam

Jayakatwang, sang penguasa Daha atau Kediri, menyimpan bara dendam yang berakar pada sejarah kelam leluhurnya. Berdasarkan naskah Babad Majapahit, Jayakatwang merupakan keturunan dari dinasti Kediri yang kekuasaannya dipatahkan oleh Ken Arok, pendiri Singasari. Meskipun ia memiliki hubungan kekerabatan sebagai bawahan Kertanagara, ambisi untuk menegakkan kembali panji-panji Kediri tidak pernah padam.

Bara dendam ini menemukan jalannya ketika Arya Wiraraja, atau Banyak Wide, mengirimkan "bisikan" strategis dari Sumenep. Merujuk pada arsip Theodore Pigeaud dalam Java in the 14th Century, Wiraraja adalah pejabat tinggi Singasari yang merasa dikhianati setelah posisinya digeser oleh Kertanagara menjadi wakil raja di Madura. 

Dalam korespondensi rahasia yang dicatat oleh Slamet Muljana, Wiraraja memberikan perumpamaan tajam bahwa Singasari saat itu ibarat padang rumput yang tanpa harimau, dan hanya dijaga oleh seorang harimau tua yang taringnya sudah ompong, yakni Patih Raganata. Isyarat inilah yang meyakinkan Jayakatwang bahwa waktu untuk melakukan kudeta telah tiba.

Strategi Licik Jayakatwang Menyerang Singhasari

Jayakatwang menyusun rencana serangan yang sangat terukur dengan membagi pasukannya menjadi dua arah untuk mengelabui pusat pertahanan istana. Berdasarkan narasi dalam Babad Majapahit, pasukan pertama bergerak dari arah utara dengan sengaja menciptakan kegaduhan luar biasa melalui sorak-sorai dan bunyi-bunyian untuk menarik perhatian pasukan utama Singasari.

Strategi ini terbukti sangat efektif. Kertanagara yang terjebak dalam muslihat ini segera memerintahkan menantunya, Raden Wijaya, memimpin pasukan untuk menghadang musuh di arah utara. Merujuk pada rekonstruksi peristiwa dalam Menuju Puncak Kemegahan, saat Raden Wijaya berhasil memukul mundur pasukan pancingan tersebut di wilayah Mameling, benteng selatan Singasari praktis tak terjaga. Inilah saat di mana pasukan inti Kediri yang dipimpin oleh Patih Kebo Mundarang bergerak senyap melalui jalur selatan dan langsung menusuk ke jantung ibu kota tanpa rintangan berarti.

Gugurnya Raja Kertanagara dan Keruntuhan Singhasari

Tragedi memuncak saat pasukan Kediri merangsek masuk ke alun-alun istana (manguntur). Pada saat genting itu, Raja Kertanagara dilaporkan sama sekali tidak siap menghadapi serangan. Merujuk pada teks Babad Majapahit, Sang Prabu dan Patih Kebo Tengah Apanji ditemukan sedang berada dalam keadaan "mabuk" atau sedang tenggelam dalam ritual keagamaan suci, sehingga mereka kehilangan kewaspadaan penuh saat musuh menyerbu puri.

Perlawanan heroik sempat diberikan oleh para punggawa setia. Merujuk pada catatan Slamet Muljana, tokoh veteran Patih Raganata dan Wirakreti gugur sebagai pahlawan di dalam istana demi melindungi tuannya. Kertanagara sendiri tewas terbunuh di tengah kekacauan serangan tersebut, yang secara otomatis mengakhiri kedaulatan dinasti Singasari. 

Raden Wijaya yang baru kembali dari medan laga di utara mendapati istana telah luluh lantak. Berdasarkan catatan dalam Java in the 14th Century dan diperkuat oleh Babad Majapahit, Wijaya terpaksa melarikan diri ke Madura dengan hanya didampingi oleh dua belas pengikut setia untuk mencari perlindungan kepada Arya Wiraraja, sosok yang ironisnya ikut merancang kehancuran tersebut.

Epilog

Runtuhnya Singasari di tangan Jayakatwang pada tahun 1292 adalah sebuah pengingat pahit mengenai siklus kekuasaan di Jawa. Ambisi ekspansi yang melampaui kemampuan perlindungan internal sering kali menjadi "catatan pinggir" bagi kehancuran sebuah imperium. Kertanagara gugur di puncak visinya, namun dari abu kehancuran Singasari inilah, Raden Wijaya kelak akan merajut kekuatan baru untuk mendirikan Majapahit—sebuah kerajaan yang nantinya akan menggenapi mimpi persatuan Nusantara yang belum sempat dituntaskan oleh mertuanya.

Bahan Bacaan

Muljana, S. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.

Pigeaud, T. G. T. (1960). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History. The Nagara-Kertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. (3rd ed.). The Hague: Martinus Nijhoff.

Sujana, K. T. (2011). Babad Majapahit. (R. Sutiasumarga, Trans.). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Catatan Redaksi: Artikel ini telah diperbarui pada 27 Februari 2026 pukul 15.50 WIB dengan mempertimbangkan akurasi data. Redaksi menambahkan sejumlah sitasi untuk memperkuat narasi. 

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +628587503514
  • redaksibabad.id@gmail.com