![]() |
| Ilustrasi Raden Bondhan Kajawan. (babad.id/Gemini Notebook) |
BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Apa yang terjadi jika seorang pemuda tanpa tanda pengenal nekat menyusup ke balai penghadapan istana Majapahit dan memukul gamelan keramat milik raja tanpa izin? Tindakan nekat ini tidak berakhir dengan hukuman mati, melainkan menyingkap takdir besar calon leluhur raja-raja Jawa.
Dalam babak Sejarah Jawa (Babad Tanah Jawi), aksi berani Radèn Bondhan Kajawan menjadi titik balik penting yang menghubungkan trah Majapahit dengan keturunan bangsawan Tarub dan Mataram.
Keberanian Bondhan Kajawan dan Dentuman Gamelan Kyai Sekardalima
Kisah ini bermula ketika Kyai Buyut Masahar berangkat ke ibu kota Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya. Perjalanan tersebut bertujuan membawa serta menyerahkan hasil bumi berupa padi dalam jumlah yang sangat besar sebagai bentuk bakti rakyat kepada penguasa.
Tanpa sepengetahuan Kyai Buyut Masahar, putra angkatnya yang bernama Radèn Bondhan Kajawan mengikuti dari belakang secara diam-diam. Setibanya di kompleks kraton Majapahit, ketika persembahan padi sedang diserahkan kepada Prabu Brawijaya, Bondhan Kajawan justru melangkah mantap menuju balai penghadapan (pendhapa).
Di sana teruji keberaniannya yang luar biasa. Tanpa ragu, ia mendekati dan memainkan gamelan keramat milik raja yang bernama Kyai Sekardalima.
- Gema yang Mengejutkan Raja: Suara gamelan keramat yang tiba-tiba berdentum di ruang penghadapan mengejutkan Prabu Brawijaya dan seluruh pembesar istana. Mengingat gamelan tersebut bukanlah instrumen sembarangan, tindakan memainkannya tanpa perintah raja dianggap sebagai pelanggaran berat.
- Penangkapan Pemuda Misterius: Para prajurit segera menyerbu dan menangkap Bondhan Kajawan, lalu membawanya ke hadapan Sang Raja untuk diinterogasi.
- Penyingkapan Identitas: Ketika Prabu Brawijaya menanyakan asal-usul pemuda yang berani tersebut, terungkaplah bahwa ia adalah putra dari Kyai Buyut Masahar. Mengetahui hal itu, Prabu Brawijaya bukannya murka, melainkan melihat tanda keutamaan dan keberanian pada diri Bondhan Kajawan, sehingga memutuskan untuk menerimanya dalam dinas kerajaan.
Anugerah Pusaka Kerajaan: Kyai Maésanular, Kyai Maléla, dan Kyai Plèrèd
Melihat potensi besar dan aura keberanian pada diri Radèn Bondhan Kajawan, Prabu Brawijaya tidak hanya mengampuni tindakannya, tetapi juga memberikannya kedudukan di istana serta menganugerahkan tiga pusaka istimewa kerajaan (pusaka).
Pusaka-pusaka yang diserahkan meliputi:
- Keris Kyai Maésanular — Keris pusaka bertuah simbol perlindungan dan kepemimpinan.
- Keris Kyai Maléla — Keris berbahan besi maléla pilihan dengan ketajaman luar biasa.
- Tombak Kyai Plèrèd — Pusaka berupa tombak keramat yang kelak menjadi salah satu pusaka paling legendaris dalam sejarah kerajaan Jawa.
Kyai Buyut Masahar menyanggupi titah Sang Raja. Ia kemudian memboyong Bondhan Kajawan keluar dari Majapahit untuk menempuh perjalanan menuju kediaman Kyai Ageng Tarub.
Perjalanan ke Tarub dan Sumpah Larangan Keris Maléla
Perjalanan menuju Tarub ternyata tidak berlangsung mulus. Di tengah jalan, Kyai Buyut Masahar dan Radèn Bondhan Kajawan diadang oleh dua orang penyamun (perampok) jalanan yang berniat jahat.
Ancaman bahaya ini menjadi ajang pembuktian ilmu dan keberanian Bondhan Kajawan:
- Pertarungan Melawan Penyamun: Tanpa gentar, Bondhan Kajawan menghadapi kedua penyamun tersebut. Ia mencabut Keris Kyai Maléla dan menggunakannya untuk menikam kedua penyamun hingga tewas di tempat.
- Patahnya Ujung Keris: Meskipun kemenangan berada di tangan Bondhan Kajawan, dahsyatnya benturan dalam pertarungan tersebut menyebabkan ujung Keris Kyai Maléla patah.
- Sumpah/Sabda Larangan: Kecewa atas patahnya pusaka berharga tersebut, Radèn Bondhan Kajawan mengucap sumpah (pantangan) yang berlaku bagi masa depan: ia melarang seluruh keturunannya di kemudian hari untuk menggunakan keris yang berjenis/berbahan maléla.
Radèn Bondhan Kajawan kemudian tinggal di Tarub dan diperlakukan seperti saudara kandung oleh putri Kyai Ageng Tarub yang bernama Rara Nawangsih (yang saat itu berusia 14 tahun). Di wilayah Tarub inilah nama Radèn Bondhan Kajawan kemudian diubah dan dikenal dengan sebutan Lembupeteng.
Rangkuman
Keberanian Radèn Bondhan Kajawan memainkan Gamelan Sekardalima membuka jalan penyingkapan jati dirinya di istana Majapahit. Anugerah tiga pusaka—Kyai Maésanular, Kyai Maléla, dan Kyai Plèrèd—serta pengarahannya ke Tarub membentuk rantai silsilah penting penguasa Jawa, di mana insiden patahnya Keris Maléla melahirkan sumpah pantangan sejarah yang dipegang teguh oleh keturunannya.
- Gamelan Kyai Sekardalima: Dimainkan oleh Bondhan Kajawan secara nekat di Majapahit, mengejutkan Prabu Brawijaya dan memicu penangkapannya yang berujung pada penerimaannya di istana.
- Tiga Pusaka Kerajaan: Prabu Brawijaya menganugerahkan Keris Kyai Maésanular, Keris Kyai Maléla, dan Tombak Kyai Plèrèd kepada Bondhan Kajawan.
- Mandat ke Tarub: Prabu Brawijaya memerintahkan Kyai Buyut Masahar untuk menyerahkan Bondhan Kajawan kepada Kyai Ageng Tarub.
- Sumpah Keris Maléla: Pertarungan dengan dua penyamun menewaskan musuh namun mematahkan ujung Keris Maléla, memicu sumpah Bondhan Kajawan bahwa keturunannya dilarang memakai keris maléla.
- Lembupeteng: Di Tarub, Bondhan Kajawan diterima sebagai saudara Rara Nawangsih dan namanya berganti menjadi Lembupeteng.
Sumber Bacaan:
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.

