![]() |
| Ilustrasi penyembuhan Prabu Brawijaya V. (babad.id/Gemini Notebook) |
BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Bagaimana sebuah penyakit yang tak tersembuhkan di istana Majapahit justru menjadi titik awal lahirnya garis keturunan raja-raja besar Jawa di masa depan? Kisah klasik dari Babad Tanah Jawi ini mengungkap tabir misteri spiritual, ramalan politik istana, dan aksi keberanian tak terduga di balik lahirnya Radèn Bondhankajawan.
Penyakit Parah Brawijaya V dan Bisikan Gaib Penawar Syarat
Dalam narasi Babad Tanah Jawi, Prabu Brawijaya V—raja agung Majapahit—mengalami cobaan fisik yang sangat berat. Sang raja menderita penyakit kelamin yang parah dan tak kunjung sembuh. Berbagai upaya pengobatan dan tabib istana telah dikerahkan, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Akibat penyakit ini, sang raja tidak dapat keluar untuk memimpin paseban di Sitinggil dalam waktu yang cukup lama.
Di tengah keputusasaan tersebut, sebuah fenomena spiritual terjadi. Pada suatu malam, ketika raja terbaring sakit, beliau mendengar sebuah bisikan gaib tanpa rupa. Suara misterius itu memberikan petunjuk yang sangat spesifik:
> "Wahai raja, jika engkau ingin sembuh, bersetubuhlah dengan seorang wanita Wandhan yang memiliki kulit berwarna kuning."
Terbangun dari tidurnya, Prabu Brawijaya V segera mengingat keberadaan seorang pelayan wanita asal Wandhan berkulit kuning langsat yang dahulu dibawa oleh permaisurinya dari Negeri Cempa. Tanpa menunda waktu, sang raja memanggil wanita tersebut.
Setelah Prabu Brawijaya V tidur dengan wanita Wandhan itu sebanyak satu kali, keajaiban terjadi. Penyakit parah yang menggerogotinya seketika sembuh total! Namun, peristiwa penyembuhan ajaib ini membawa konsekuensi sejarah yang jauh lebih besar: wanita Wandhan tersebut langsung mengandung janin dari sang raja.
Ramalan Ahli Nujum dan Penyelamatan Radèn Bondhankajawan
Kelahiran bayi dari wanita Wandhan tersebut membawa kebahagiaan sekaligus kecemasan mendalam bagi lingkungan kerajaan. Bayi laki-laki yang lahir itu berparas sangat tampan, namun takdirnya langsung terancam oleh dinamika politik istana.
- Ramalan Bahaya Tahta: Para ahli nujum (astrolog) kerajaan meramalkan bahwa bayi tersebut kelak akan tumbuh menjadi sosok yang merebut tahta dan meruntuhkan kekuasaan Prabu Brawijaya V. Khawatir akan keselamatan kerajaannya, sang raja mengambil keputusan drastis.
- Instruksi Eksekusi Tertunda: Raja menyerahkan bayi tersebut kepada Kyai Buyut Masahar, seorang pengawas sawah kerajaan, untuk dibesarkan. Namun, raja memberikan perintah rahasia yang kejam: ketika anak tersebut genap berusia delapan tahun, Kyai Buyut Masahar harus membunuhnya.
- Penamaan dan Pertumbuhan: Kyai Buyut Masahar membawa bayi itu pulang dan menyerahkannya kepada sang istri. Setelah tali pusatnya lepas, bayi tersebut diberi nama Radèn Bondhankajawan. Ia tumbuh dalam kasih sayang keluarga Kyai Buyut Masahar.
- Dilema Moral dan Laporan Palsu: Saat Radèn Bondhankajawan menginjak usia delapan tahun, Kyai Buyut Masahar bersiap menjalankan perintah raja. Ia menghunus kerisnya untuk mengeksekusi anak tersebut. Melihat keris terhunus ke arah anak asuhnya, istri Kyai Buyut Masahar pingsan karena rasa duka yang luar biasa. Tergerak oleh kasih sayang pada istrinya dan rasa iba pada sang pangeran muda, Kyai Buyut Masahar membatalkan eksekusi.
Ia memilih menyembunyikan Radèn Bondhankajawan dan memberanikan diri menghadap Prabu Brawijaya V untuk melaporkan bahwa perintah pembunuhan telah dilaksanakan. Sang raja percaya dan merasa sangat puas, tanpa menyadari bahwa pahlawan masa depan Jawa baru saja diselamatkan.
Rangkuman
Penyembuhan ajaib Prabu Brawijaya V oleh Wanita Wandhan merupakan episode krusial dalam Babad Tanah Jawi yang menghubungkan garis keturunan raja-raja Majapahit dengan cikal bakal penguasa Mataram. Kendati diwarnai ramalan politik yang mengancam nyawa, kasih sayang dan keberanian Kyai Buyut Masahar berhasil menyelamatkan Radèn Bondhankajawan dari hukuman mati.
- Penawar Gaib: Prabu Brawijaya V sembuh dari penyakit kelamin parah setelah menjalankan petunjuk gaib untuk bersetubuh dengan pelayan wanita asal Wandhan berkulit kuning.
- Ramalan Keruntuhan: Para ahli nujum meramalkan bahwa putra dari wanita Wandhan akan merebut tahta dan menggulingkan kekuasaan Majapahit.
- Perintah Hukuman Mati: Raja menitipkan bayi tersebut kepada Kyai Buyut Masahar dengan syarat harus dibunuh saat genap berusia 8 tahun.
- Aksi Penyelamatan Rahasia: Kyai Buyut Masahar membatalkan eksekusi demi istrinya yang pingsan dan memalsukan laporan kematian Radèn Bondhankajawan kepada raja.
