Makna dan Filosofi Makanan Jawa: Es Dawet Sebagai Menu Upacara Pernikahan Adat Jawa

- Minggu, 3 Juli 2022 | 07:00 WIB
ilustrasi es dawet (Dok. Ayo Semarang)
ilustrasi es dawet (Dok. Ayo Semarang)

BABAD.ID – Kamu bisa menemukan berbagai jenis es dawet di pulau Jawa, seperti es dawet ireng, es dawet ayu, es dawet selasih, dan es dawet Jepara. Tidak jarang pula, minuman ini disajikan dalam rangkaian upacara pernikahan adat Jawa.

Dawet biasanya disajikan dengan es serut, santan, dan gula kelapa cair. Rasanya segar, gurih, dan manis khas gula Jawa yang dipadukan dengan lembutnya dawet. Satu sruputan dijamin kurang.

Sekilas, es dawet dan es cendol itu sama, atau bahkan ada yang menganggap es cendol dawet itu satu jenis minuman. Padahal kedua minuman tersebut benar-benar berbeda.

Baca Juga: Resep Rawon Khas Jawa Timur untuk Hidangan Idul Adha dan Mengolah Daging Supaya Cepat Empuk

Es cendol terbuat dari tepung kacang hijau atau hunkwe, sedangkan dawet terbuat dari tepung beras.

Karena bahan dasarnya berbeda, tesktur cendol dan dawet pun tidak sama. Dawet bertekstur lebih empuk dan padat, sedangkan cendol lebih kenyal.

Bentuknya, jika dicermati lagi, juga berbeda. Dawet memiliki bentuk yang lebih ramping dan runcing, karena dicetak menggunakan saringan besi yang digoyangkan.

Baca Juga: Resep Bumbu Rawon Khas Jawa Timur dan Pro Tips Menyimpannya

Sedangkan cendol dibentuk melalui wadah khusus yang dilubangi bawahnya, kemudian ditekan dengan alat khusus supaya adonan menetes ke air dingin.

Sajian ini sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Tapi, sebagai orang Jawa, apakah kamu sudah tahu makna dan filosofi es dawet?

Secara umum, ada dua garis besar filosofi es dawet – terkait adat dan simbol wayang yang bertengger pada gerobak es dawet.

Baca Juga: 9 Jenis Tanah yang Tidak Ideal untuk Ditinggali Menurut Kepercayaan Orang Jawa

Filosofi es dawet terkait upacara adat dodol dawet

Es dawet juga menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian upacara pernikahan adat Jawa – tradisi dodol dawet.

Pada upacara tersebut, orang tua pengantin wanita akan dodol atau jualan dawet, sedangkan para tamu undangan sebagai pembelinya.

Halaman:

Editor: Wiwid Saktia

Sumber: Belajar dari Makanan Tradisional Jawa - Kemendikbud

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X