• Selasa, 7 Februari 2023

Sejarah Batik Motif Parang yang Perlu Orang Jawa Tahu

- Senin, 18 Juli 2022 | 20:02 WIB
Nyanting salah satu proses pembuatan batik tulis. (Pixabay/masbebet)
Nyanting salah satu proses pembuatan batik tulis. (Pixabay/masbebet)
BABAD.ID - Batik memiliki ragam motif yang sangat banyak sekali. Diantara ragam motif itu ada yang paling populer yaitu batik parang. 
 
Konon menurut sejarah, motif parang diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram ketika meditasi di pantai selatan.
 
Sang Sultan mendapat inspirasi dari ombak yang bergulung-gulung di laut Parangtritis. Tidak butuh waktu lama akhirnya Sultan Agung membuat motif parang.
 
 
Motif parang tersebut memiliki dua bentuk yaitu Gareng dan mlinjon. Gareng berbentuk lengkungan dan mlinjon berbentuk seperti belah ketupat. 
 
Mengapa disebut Gareng? Karena memang diambil dari nama tokoh pewayangan yang bernama "Gareng". Tokoh Gareng adalah simbol dari sikap kebijaksanaan. 
 
Motif parang mengadaptasi sikap kebijaksanaan tokoh pewayangan tersebut. Sebab tokoh Gareng dinilai cerdik. 
 
 
Tokoh Gareng selalu menyelesaikan masalah yang ada tanpa berat sebelah dan dapat diterima semua pihak. 
 
Jika dilihat motif parang yang berbentuk lengkungan itulah simbol tokoh Gareng. Batik motif parang digambar dengan lengkungan-lengkungan secara geometris. 
 
Sedangkan mlinjon disusun berjajar di ujung setiap lengkungan. Berbeda dengan bentuk Gareng, mlinjon memiliki simbol dari sebuah awal kehidupan.
 
 
Terciptanya bentuk mlinjon ketika Sultan Agung melihat karang-karang laut. Sultan Agung memaknainya bahwa dari celah karang itulah awal mula kehidupan. 
 
Perpaduan bentuk antara Gareng (lengkungan) dan mlinjon (belah ketupat yang disusun berjajar) kemudian disebut batik motif parang. 
 
Karena diciptakan oleh Sultan Agung, tidak heran banyak dijumpai di lingkungan kerajaan. Sebab motif parang sendiri merupakan simbol kewibawaan.
 
 
Batik motif parang selalu dipakai oleh raja-raja Jawa salah satunya sultan Agung. Tidak heran kalau masyarakat umum dilarang memakai batik motif parang ketika berada di kraton karena kekhususannya. 
 
Namun banyak yang salah sangka kalau motif parang merupakan senjata atau pusaka karena berasal dari kata Parang (senjata). Padahal tidak sama sekali.
 
 
Sultan Agung dengan penemuan motif Parang memilliki makna tersendiri. Pertama seharusnya manusia memiliki keteguhan hati seperti batu karang.  
 
Kedua manusia harus bermanfaat untuk sekitarnya. Artinya manusia seharusnya mampu menciptakan sumber kehidupan untuk sekitarnya.***

Editor: Fareh Hariyanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X