• Sabtu, 1 Oktober 2022

Melihat Kerukunan dalam Keberagaman di Desa Yosomulyo Banyuwangi

- Jumat, 17 Juni 2022 | 18:56 WIB
Gerbang Wihara Darma Harja di Desa Yosomulyo Kecamatan Gambiran.   (Foto. Fareh Hariyanto - Babad.id)
Gerbang Wihara Darma Harja di Desa Yosomulyo Kecamatan Gambiran. (Foto. Fareh Hariyanto - Babad.id)

BABAD.ID - Menjadi Kabupaten Terbesar di Pulau Jawa, membuat Banyuwangi memiliki segalanya. Beragam warisan adat, agama dan budaya berkelindan dengan kearifan lokal di dalamnya.

Memiliki keragaman yang terbangun sejak lama membuat Kabupaten Banyuwangi memiliki sisi toleransi tinggi antar pemeluk agama lain.

Hal tersebut terlihat jelas saat berkunjung di Wihara Dharma Harja di Dusun Sidorejo Wetan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi - Jawa Timur. Saya berkunjung di sana pada pertengahan bulan lalu tepatnya sehari sebelum peringatan Trisuci Waisak 2566/2022.

Bentuk toleransi yang cukup kentara terlihat di Desa Yosomulyo ini, sebab di sini selain Wihara Dharma Harja, sekitar 1,7 kilometer juga berdiri Gereja Kerasulan Baru Indonesia (GKBI) yang berada di Dusun Krajan Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Saat menempuh perjalanan sejauh 1,7 kilometer diantara dua tempat ibadah itu, saya juga melihat bangunan Masjid Baitul Qudus berada di tengah antara Gereja dan Wihara.

Siang itu saya bertemu dengan Banthe Teja Punyo Mahatera di Wihara Darma Harja, tempat ibadah umat Buddha yang pada Agustus 2022 genap berusia 52 tahun. Tampak hiruk pikuk persiapan untuk peringatan Trisuci Waisak 2566/2022 sudah terasa di sekitaran Wihara.

Baca Juga: Kereta Api dan Jalur yang Diwaspadai

Banthe Teja, sapaan akrabnya mempersilahkan saya untuk duduk di aula penerimaan tamu. Saya pun langsung mengajukan beragam pertanyaan yang sudah saya siapkan berkaitan dengan peringatan Trisuci Wisak 2566 / 2022.

Apalagi kabarnya Sangha Theravada Indonesia (STI) sebagai organisasi keagamaan umat Buddha menunjuk Kabupaten Banyuwangi yang dipercayai untuk menjadi lokasi perayaan Waisak di Provinsi Jawa Timur.

Banthe Teja menjelaskan Waisak adalah Hari Raya Umat Buddha, menurutnya istilah Waisak berasal dari kata Sansekerta Waishakha, Pali Vesakha. Hari Waisak sebagai peringatan kelahiran, pencerahan, dan kematian Sang Buddha, Siddharta Gautama.

Halaman:

Editor: Fareh Hariyanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X