• Selasa, 29 November 2022

Nasib Nelayan di Tambak Lorok: Bertahan Dikepung Banjir Rob dan Pendapatan yang Tak Menentu

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 23:07 WIB
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

Baca Juga: Mengulik Nilai dan Nasihat dalam Tembang Dolanan Anak Sluku Sluku Bathok

Tapi banjir kali ini berbeda. Banjir besar itu dibarengi jebolnya tanggul laut di kawasan industri Lamicitra yang berada di pelabuhan Tanjung Mas sekitar pukul 12 siang dengan ketinggian air 1,5 meter. Sebelum air meninggi puluhan ribu karyawan berlarian keluar meninggalkan tempat kerjanya untuk menyelamatkan diri. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun sepeda motor milik karyawan-karyawan tersebut terendam banjir sehingga rusak parah.

Rumah Rokah pun tak lepas dari kepungan banjir kali ini. Air menerabas masuk rumah Rokah dan warga lainnya pada 23 Mei 2022 lalu. Air menggenangi rumahnya setinggi lima sentimeter, sementara di luar banjir sudah setinggi 60 cm hingga 70 cm. Air masuk ke dalam rumahnya sejak pukul empat sore dan baru surut pukul 10 malam. Meski tak ada kerusakan berarti, tetapi banjir yang bolak-balik datang itu membuat Rokah resah.

Baca Juga: Data Kemenag, 39.551 Jemaah Haji Sudah Tiba di Indonesia

Banjir Datang, Pendapatan Hilang

Di RT 01, tempat Rokah tinggal, terdapat 90 rumah yang dihuni 108 kepala keluarga. Tak semuanya bekerja sebagai nelayan, hanya sepertiga saja yang mengais rejeki di laut, sisanya bekerja di sektor darat. Ada yang bekerja di pabrik textil, di kawasan industri pelabuhan, ada juga yang bekerja di pemerintahan Kota Semarang.

Ketika banjir rob besar pada 23 Mei datang, rumah-rumah warga di sana tak ada yang bebas dari kepungan banjir. Air bahkan masuk ke dalam rumah hingga semata kaki. Bagi sebagian warga di sana, banjir itu mungkin tidak berdampak apa-apa selain harus mengosek rumah setelah terendam banjir, namun buat para nelayan, ketika banjir rob datang, itu artinya pendapatan hilang.

Sejak banjir rob itu datang, para nelayan di Tambak Lorok berhenti melaut. Termasuk juga dengan Rokah. Melaut pada saat rob sedang tinggi sama saja cari masalah serta buang-buang uang dan tenaga. Melaut ketika ombak sedang tinggi berisiko pada keselamatan dan sudah dipastikan tidak bakal dapat hasil tangkapan ikan yang maksimal.

Baca Juga: Kasus Penyekapan 54 WNI di Kamboja: 260 WNI Jadi Korban, 10 di Antaranya Warga Jateng

Rokah bercerita, untuk sekali melaut ia harus mengeluarkan modal sebesar Rp30 ribu. Modal itu untuk keperluan beli makan dan bensin untuk perahunya yang berukuran 4,5 meter dengan mesin tempel berkapasitas 9 pk (Paardenkracht). Tentunya tak ada subsidi bahan bakar dari pemerintah.

Halaman:

Editor: Abdul Arif BabadID

Sumber: Project Multatuli

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X