• Selasa, 29 November 2022

Nasib Nelayan di Tambak Lorok: Bertahan Dikepung Banjir Rob dan Pendapatan yang Tak Menentu

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 23:07 WIB
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

Pada Januari sampai Mei saat ia melaut, Rokah banyak mendapatkan kakap putih dan kepiting, yang kemudian ia jual ke pelelangan ikan di kampungnya. Pendapatan per hari dari melaut, rata-rata Rokah dapat mengantongi Rp75 ribu hingga Rp100 ribu. Keuntungan dari melaut dikurangi modal hanya berkisar Rp40 ribu sampai Rp70 ribu, jika diasumsikan melaut selama 30 hari berturut-turut dan mendapatkan tangkapan maksimal, paling-paling Rokah hanya mengantongi Rp2,1 juta saja sebulan. Jumlah itu masih jauh dari UMK Kota Semarang.

Sedangkan Juni hingga Desember Rokah dan istrinya menjadi pengepul rajungan di teras rumah ibunya di RT 03 RW 14 yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Rokah. Setiap harinya Rokah membeli rajungan dari nelayan-nelayan di Tambak Lorok rata-rata 150 kilogram, dengan harga per kilogramnya Rp22 ribu.

Baca Juga: Kasus Penyekapan 54 WNI di Kamboja: 260 WNI Jadi Korban, 10 di Antaranya Warga Jateng

“Kalau tahun 2021 harganya bisa sampai Rp100 ribu per kilogramnya. Tapi kemudian harga ekspor daging rajungan turun ya sekarang ikutan turun,” jelasnya.

“Nelayan yang menjual rajungannya ke saya ya ada sekitar 10 nelayan. Per nelayan ada yang jual 10 kilogram, ada juga yang 20 sampai 30 kilogram. Tergantung dapatnya hari itu,” kata Rokah lagi.

Rajungan-rajungan itu kemudian ia rebus menggunakan dua periuk besar berkapasitas 40 kilogram sekitar 30 menit. Dalam sehari rata-rata menghabiskan dua tabung gas ukuran tiga kilogram. Setelah direbus, kemudian ditiriskan dan diletakkan di keranjang plastik, dan di jual ke PT Kelola Mina Laut, pabrik makanan laut ekspor di Kabupaten Demak dengan mengambil keuntungan Rp2.000 per kilogramnya.

“Tiap jam 5 sore orang pabrik pasti datang ke sini ngambil rajungannya.”

Meski tak bekerja sebagai nelayan, Selamet Riyadi ketua RW 16 Tambak Lorok, juga kelimpungan soal pendapatan. Sejak tahun 2017, Selamet bekerja serabutan, apa saja ia kerjakan asal halal, untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan empat orang anak. Sudah pusing memikirkan mencari uang, ia kini juga dihantui kecemasan karena banjir yang makin sering datang dan semakin tinggi.

Baca Juga: 1444 H, Kali Pertama Kiswah Kabah Diganti pada 1 Muharram

“Sebelumnya ada rob, tapi hanya di jalan utama. Kalau sekarang sudah masuk ke gang-gang kampung,” kata Selamet.

Halaman:

Editor: Abdul Arif BabadID

Sumber: Project Multatuli

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X