• Selasa, 29 November 2022

Nasib Nelayan di Tambak Lorok: Bertahan Dikepung Banjir Rob dan Pendapatan yang Tak Menentu

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 23:07 WIB
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Ilustrasi banjir rob di wilayah Tambaklorok, Kota Semarang. ((Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

Sebaliknya, soal penanganan rob itu, Mila mengatakan tidak bisa hanya dengan membuat tanggul lalu permasalahan itu dianggap selesai. “Penanganan rob juga dibarengi dengan rekayasa yang sifatnya konservasi mangrove dan pemerintah harus membatasi pengambilan air tanah yang berlebihan,” kata Mila.

Nelayan Tak Mungkin Jadi Andalan

Rokah sudah banyak makan asam garam di Tambak Lorok. Ia sudah menyaksikan sendiri ketika banjir rob masih tipis di seberang jalan besar, sampai akhirnya masuk ke rumahnya. Bila solusi tak segera datang, mungkin dalam beberapa tahun ke depan, banjir rob akan semakin parah. Itu yang bikin Rokah khawatir.

Bagi Rokah, Tambak Lorok bukan sekadar tempat ia tinggal, tapi sudah menjadi perjalanan dari hidupnya yang tidak bisa dipisahkan lagi. Ia sudah menetap di sana selama 46 tahun. Ia dan ibunya hijrah dari Demak ke sana pada tahun 1977. Semula ia tinggal bersama ibunya, sampai akhirnya ia menikah pada 1989, lalu pindah hidup mandiri, menikah dan memiliki tiga orang anak. Barulah pada tahun 1999 ia menempati rumah yang jadi langganan banjir.

“Kalau di Tambak Lorok, saya sejak 1977, kan saya melaut dari Demak terus ke sini,” katanya. “Di kampung ini, yang tua-tua itu tidak ada yang warga asli, semuanya pendatang.”

Ia bercerita, nama Tambak Lorok berarti lurukan yang artinya tujuan dari berbagai daerah. Kampung ini menjadi tempat para nelayan tinggal, dan mulai banyak ditinggali warga sekitar tahun 1950.

Baca Juga: Ajaran Hidup dan Etika Berpolitik dalam Tembang Dolanan Anak - Sinten Nunggang Sepur

Saat itu melaut adalah jalan utama mereka mendapatkan penghasilan. Ikan masih mudah didapat, biaya melaut belum mencekik, dan biaya hidup pun tak semahal sekarang. Sejak saat itu Tambak Lorok lekat kaitannya dengan hidup para nelayan. Namun itu semua adalah masa lalu.

Jika Rokah dulu menjadi nelayan karena pilihannya, tapi kini tidak bagi anak-anaknya. Anak-anak Rokah tidak ada satu pun yang melanjutkan jejaknya sebagai nelayan. Padahal ia ingin ada yang meneruskan pekerjaanya itu. Anaknya yang bungsu memilih bekerja di Polytron, pabrik elektronik di daerah Sayung, Kabupaten Demak, kemudian ada yang buka warung makan dan yang sulung bekerja di pabrik alat-alat kesehatan di daerah Semarang Barat.

Menjadi buruh pabrik atau berdagang masih lebih rasional untuk menjawab kebutuhan hidup. Pendapatan mereka teratur, tiap bulan dapat gaji tetap, tidak seperti nelayan yang bergantung pada jumlah tangkapan ikan.

Halaman:

Editor: Abdul Arif BabadID

Sumber: Project Multatuli

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X