• Sabtu, 1 Oktober 2022

Perjuangan Penghayat Kepercayaan di Kendal, dari Sulitnya Mendapat Izin Nikah hingga Akses Sekolah

- Minggu, 21 Agustus 2022 | 12:50 WIB
Perhimpunan Sapta Darma (Persada) Kendal, Purnomo bersama istri. (Isbalna/babad.id)
Perhimpunan Sapta Darma (Persada) Kendal, Purnomo bersama istri. (Isbalna/babad.id)

BABAD.ID - “Dulu meminta stempel untuk pernikahan saja susah sekali, berhari-hari bolak-balik tapi tidak diberi stempel.”

Demikian cerita Purnomo, lelaki berusia 37 tahun, yang saat ini diberi amanah untuk menjadi ketua Perhimpunan Sapta Darma (Persada), di salah satu desa di Kendal. Ia memutar kembali ingatan di 2015, ketika ia hendak menikahi Kartini yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya.

Ia dan Kartini adalah pasangan pertama dari penganut kepercayaan yang menikah di Kendal. Prosesnya jelas tidak mudah, untuk mendapatkan stempel dari kelurahan saja ia harus berjuang keras. Pasalnya, pihak kelurahan mendapatkan tekanan dari tokoh setempat agar tidak memberikan izin pernikahan tersebut.

“Sepurone, asline aku gelem ngei stempel iki, tapi aku ditekan tokoh masyarakat kene,” Purnomo menirukan ucapan kepala desa saat itu dengan Bahasa Jawa.

Namun Purnomo tidak pernah menyalahkan para tokoh masyarakat tersebut, terlebih kepala desa. Ia membayangkan, jika ia di posisi yang berbeda, mungkin ia akan melakukan hal yang serupa.

Menurutnya, kemungkinan ada ketakutan tersendiri jika ajaran Sapta Darma berkembang, maka umat agama lain akan berkurang penganutnya.

Baca Juga: Nasib Nelayan di Tambak Lorok: Bertahan Dikepung Banjir Rob dan Pendapatan yang Tak Menentu

Ujian dalam proses pernikahannya hanya bagian kecil dari berbagai cobaan yang pernah ia alami sebagai penganut kepercayaan Sapta Darma. Sebelumnya, Purnomo dan beberapa penganut kepercayaan Sapta Darma juga mendapatkan intervensi dalam hal beribadah. Hal ini terjadi sebelum 2012, di mana ketika mereka hendak melakukan Sujud Penggalian, yakni 12 hari berturut-turut beribadah bersama, mereka mendapatkan penolakan dari masyarakat.

“Saat itu kami harus bolak-balik ke kepolisian memberikan surat pemberitahuan acara tersebut. Polisi saat itu memberikan izin, bahkan dari mereka mengatakan untuk hal semacam ini tidak usah izin, karena sudah legal. Nanti kalau ada penolakan lagi, pihak kepolisian yang langsung terjun ke TKP,” kata Purnomo di rumahnya pada Sabtu 18 Juni 2022.

Halaman:

Editor: Abdul Arif BabadID

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X