Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Ragam Istilah untuk Orang yang Menuntut Ilmu dalam Tradisi Jawa, Mulai dari SD Sampai Jadi Profesor

Ilustrasi orang sedang belajar di universitas. (Sumber: Unsplash.com/element5digita)

BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Pernah dengar istilah Wong Jawa kuwi nggone semu? Maknanya, dalam budaya Jawa, segala sesuatu itu ada tingkatannya, ada tata kramanya—termasuk soal proses kita belajar atau mencari ilmu.

Di zaman sekarang yang serba instan, kita sering kali pengen langsung jadi "suhu" atau ahli tanpa melewati proses. 

Padahal, leluhur kita sudah punya pakem atau tingkatan penamaan bagi seseorang yang sedang berproses menuntut ilmu. 

Istilah-istilah ini bukan cuma label keren-kerenan, tapi mencerminkan sejauh mana kematangan jiwa dan pemikiran seseorang.

Buat kamu generasi Millennial dan Gen Z yang lagi hobi self-improvement atau lagi mendalami filosofi lokal, memahami tingkatan ini bakal bikin kamu lebih grounded dan nggak gampang kena mental saat merasa progresnya lambat. 

Yuk, kita bedah satu per satu penamaan bagi para pencari ilmu dalam budaya Jawa, mulai dari tahap "newbie" sampai menjadi “guru besar”.

1. Indung-indung (Level SD)

Bayangkan anak-anak kecil yang rasa ingin tahunya lagi tinggi-tingginya. Di level dasar ini, mereka disebut Indung-indung. 
Ini adalah masa di mana seseorang mulai mengenal dunia dan menyerap informasi seperti spons.

2. Ulu Guntung & Ubon-ubon (Level Remaja)


Masuk masa puber atau remaja, sebutannya jadi lebih spesifik. Buat yang laki-laki disebut Ulu Guntung, sedangkan yang perempuan disebut Ubon-ubon. 
Di fase ini, semangat belajarnya mulai membara, meski biasanya masih penuh gejolak pencarian jati diri.

3. Cekel & Duyik (Level Mahasiswa/Dewasa)


Nah, kalau kamu sudah masuk usia kuliahan atau dewasa awal, istilahnya adalah Cekel untuk laki-laki dan Duyik untuk perempuan. 
Di level ini, seseorang dianggap sudah mulai "pegang" (cekel) prinsip hidup dan fokus mendalami keahlian tertentu secara lebih serius.

4. Cantrik & Mentrik (Asisten Guru)


Pernah dengar istilah Cantrik? Ini adalah sebutan bagi laki-laki yang sudah jadi orang kepercayaan atau asisten guru. 
Sedangkan untuk perempuan disebut Mentrik. Mereka nggak cuma belajar teori, tapi sudah mulai praktik langsung mendampingi sang ahli (magang kalau bahasa kerennya).

5. Manguyu & Sontrang (Guru Muda)


Naik setingkat lagi, ada Manguyu (laki-laki) dan Sontrang (perempuan). Mereka ini sudah bisa disebut sebagai guru muda atau tutor. 
Tugasnya bukan lagi sekadar menyerap ilmu, tapi sudah mulai bisa membagikan dan membimbing orang lain.

6. Jejanggan & Bidang (Guru)


Level ini adalah untuk para pakar. Jejanggan untuk laki-laki dan Bidang untuk perempuan.
Tahu kata "Pujangga"? Kata itu ternyata berakar dari Jejanggan, lho! Mereka adalah orang-orang yang level keilmuannya sudah sangat tinggi, bijaksana, dan biasanya ahli dalam sastra maupun pengetahuan mendalam tentang kehidupan.

7. Maha Guru (The Ultimate Professor)


Inilah puncak dari segala pencarian ilmu. Dalam sejarah Jawa, Maha Guru punya banyak sebutan sakral seperti Pandita, Ki Ajar, Begawan, Wiku, atau Resi. 
Kalau di dunia akademis masa kini, mereka adalah para Professor yang ilmunya sudah mumpuni dan jadi rujukan banyak orang.

Sumber: Fahruddin Faiz. 2023. Mati Sebelum Mati Buka Kesadaran Hakiki. Jakarta: Noura Books

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +628587503514
  • redaksibabad.id@gmail.com