![]() |
| Ilustrasi Sunan Kalijaga membuat Saka Tatal saat pembangunan Masjid Demak. (babad.id/Gemini Notebook) |
Pendirian Kesultanan Demak dan Kesepakatan Para Wali
Narasi pembangunan Masjid Agung Demak dalam Babad Tanah Jawi versi terjemahan Willem G.J. Remmelink diawali dari transisi kekuasaan di Jawa pasca-runtuhnya Majapahit.
Setelah Sunan Giri memegang pimpinan sementara selama empat puluh hari, tahta kerajaan diserahkan kepada Radèn Patah.
Beliau resmi dinobatkan sebagai raja Demak pertama dengan gelar keagamaan dan politik yang megah: Sénapati Jimbun Abdurahman Panembahan Palémbang Sayidin Panatagama, dengan Ki Wanapala diangkat sebagai Patih bergelar Mangkurat.
Seiring pesatnya perkembangan masyarakat Jawa yang memeluk agama Islam, para Wali Sanga bermusyawarah dan sepakat mendirikan sebuah pusat peribadatan utama: Masjid Agung Demak.
Seiring pesatnya perkembangan masyarakat Jawa yang memeluk agama Islam, para Wali Sanga bermusyawarah dan sepakat mendirikan sebuah pusat peribadatan utama: Masjid Agung Demak.
Masing-masing wali membagi tugas penyediaan bahan konstruksi. Namun, Sunan Kalijaga sempat tertinggal dari wali lainnya karena beliau sedang melakukan perjalanan ziarah spiritual ke Pamantingan.
Ketika beliau tiba kembali di Demak, kerangka masjid sudah siap dirangkai, sementara bagian tiang utama (saka guru) yang menjadi tanggung jawabnya belum tersedia.
Keajaiban Saka Tatal Sunan Kalijaga dan Penanggalan Masjid
Menghadapi keterbatasan waktu, Sunan Kalijaga menunjukkan kearifan spiritual yang luar biasa.
Beliau mengumpulkan tumpukan sisa serutan kayu jati (tatal) yang bertebaran di area pembangunan masjid, lalu mengikatnya erat-erat hingga membentuk silinder tiang yang utuh.
Malam itu juga, tumpukan serutan kayu tersebut secara ajaib menyatu menjadi tiang kayu yang kokoh dan presisi. Tiang ajaib ini kelak dikenali dalam panggung sejarah Jawa dengan nama Saka Tatal.
Masjid Agung Demak resmi ditegakkan pada 1 Dulkangidah 1420 A.J. dengan arah mihrab lurus ke Ka'bah di Mekkah, dan Sunan Kudus ditetapkan sebagai pejabat keagamaan utama (chief official) masjid.
Malam itu juga, tumpukan serutan kayu tersebut secara ajaib menyatu menjadi tiang kayu yang kokoh dan presisi. Tiang ajaib ini kelak dikenali dalam panggung sejarah Jawa dengan nama Saka Tatal.
Masjid Agung Demak resmi ditegakkan pada 1 Dulkangidah 1420 A.J. dengan arah mihrab lurus ke Ka'bah di Mekkah, dan Sunan Kudus ditetapkan sebagai pejabat keagamaan utama (chief official) masjid.
Turunnya Wahyu Sajadah Nabi dan Lahirnya Rompi Pusaka Antakusuma
Satu minggu setelah Masjid Demak berdiri, para Wali Sanga berkumpul di dalam masjid untuk mengumandangkan dzikir bersama.
Saat itu, Sunan Kalijaga duduk terpisah dalam konsentrasi khusyuk (heneng-hening) di bawah bedug masjid.
Tiba-tiba, sebuah bingkisan jatuh dari atas. Bingkisan terbungkus kulit kambing tersebut berisi sajadah dan selendang shalat peninggalan Nabi Muhammad SAW.
Tiba-tiba, sebuah bingkisan jatuh dari atas. Bingkisan terbungkus kulit kambing tersebut berisi sajadah dan selendang shalat peninggalan Nabi Muhammad SAW.
Para wali sempat berdiskusi untuk membagi kain sakral tersebut, namun Sunan Bonang mengusulkan agar bingkisan dilemparkan ke udara dan siapa pun yang kejatuhan akan menjadi pemiliknya. Bingkisan itu jatuh tepat di lapangan pangkuan Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga kemudian melakukan tirakat dan bertapa di dalam liang kubur selama empat puluh hari sambil menjahit kulit kambing serta kain sakral tersebut diiringi bacaan dua kalimat syahadat.
Sunan Kalijaga kemudian melakukan tirakat dan bertapa di dalam liang kubur selama empat puluh hari sambil menjahit kulit kambing serta kain sakral tersebut diiringi bacaan dua kalimat syahadat.
Hasil jahitan tersebut menjadi sebuah rompi pusaka bernama Antakusuma atau Kyai Gondhil. Rompi sakral ini kelak menjadi ageman wajib raja-raja Jawa saat bertakhta dan maju ke medan perang (kecuali Sultan Demak dan Sultan Pajang yang tidak mengenakannya).
Masjid Demak sebagai Pusaka Fondasi (Cornerstone Pusaka) Tanah Jawa
Dalam tradisi historiografi Babad Tanah Jawi, Masjid Demak tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, melainkan sebagai pusaka spiritual penopang utama (cornerstone pusaka) keberlangsungan takhta di tanah Jawa.
Hal ini ditegaskan dalam episode perang saudara Kartasura, ketika Sunan Pakubuwana I menenangkan para adipatinya saat semua pusaka kraton dirampas musuh. Beliau menyatakan bahwa selama Masjid Demak dan makam suci Adilangu masih berdiri tegak, kedua tempat tersebut adalah pusaka fondasi terpenting yang menjaga keselamatan dan legitimasi Pulau Jawa.
Pentingnya fungsi spiritual masjid ini membuat para penguasa Jawa secara berkala merawatnya, seperti pemugaran atap sirap kayu yang dilakukan oleh Kyai Tumenggung Wiracana pada tahun 1634 A.J. atas perintah Keraton Kartasura.***
Sumber Bacaan:
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.
