Kisah 2 Abdi Dalem yang Bergabung Menjelang Usia Senja: Umur Tak Jadi Penghalang
BABAD.ID | Stori Loka Jawa – Panggilan untuk menjadi seorang abdi dalem bisa muncul pada usia berapa saja.
Ada yang mengabdi sejak masa anak-anak, remaja, bahkan di usia senjapun juga ada.
Hal inilah yang dilalui oleh dua narasumber yang diwawancarai oleh tim Kanal Pengetahuan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berjudul Abdi Dalem: Pengabdian Tak Terbatas.
KRT H. Wijaya Pamungkas S. E.
Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Haji Wijaya Pamungkas S. E., adalah seorang abdi dalem yang mengabdikan diri pada usia 40 tahun.
Sesuai dengan gelar pada namanya, KRT, beliau dulunya bekerja sebagai pegawai di pemerintahan Yogyakarta.
Sekarang dirinya bertugas di Carik Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tepas ini bertugas menjadi penghubung antara keraton dengan pihak luar.
Setiap hari beliau selalu hadir ke Kraton Yogyakarta dari pukul 9.00 sampai pukul 14.00.
KRT Wijaya mengungkapkan dirinya bangga menjadi abdi dalem karena bisa mendapat gelar kehormatan dan menjadi disegani serta dihormati di kalangan masyarakat.
Selain itu, beliau juga merasa aman dan dilindungi dari marabahaya karena selalu berada di dekat Sri Sultan.
Sebagai seorang abdi dalem, urusan gaji atau finansial bukan menjadi masalah yang terlalu dipikirkan.
Dirinya yakin bahwa pasti sudah ada jatah yang diberikan oleh Tuhan YME selama mengabdi.
KRT Joyodipuro
Kalau KRT Wijaya menjadi abdi dalem di usia 40 tahun, maka KRT Joyodipuro menjadi abdi dalem di usianya yang sudah 62 tahun.
Panggilan menjadi abdi dalem beliau dapatkan setelah menjabat sebagai Lurah di Kelurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.
Dirinya menjadi abdi dalem bukan karena dipengaruhi atau ajakan dari orang lain, melainkan panggilan hatinya sendiri yang pada saat itu masih sangat awam dengan budaya Kraton Yogyakarta.
Setelah mendaftar menjadi abdi dalem, beliau diberi tugas untuk mendampingi Kanjeng Jati dan membantu pembinaan abdi dalem lain dari Reh Keprajan.
Hal baru yang didapat setelah menjadi abdi dalem salah satunya adalah menjadikan dirinya semeleh atau pandai berserah diri dan selalu bersyukur atas apa yang telah dimiliki.
Beliau menyadari bahwa kebahagiaan dan kenyamanan abdi dalem tidak dinilai diukur dari duniawi.
Sehingga tidak terlalu memusingkan tentang uang atau gaji, baginya menjadi abdi dalem merupakan sebuah pengabdian yaitu keharusan mutlak tanpa memikirkan hal tersebut.
Menjadi abdi dalem merupakan seberapa bisa berolahrasa dan bersyukur.
Panggilan untuk menjadi abdi dalem dapat datang pada usia berapa saja, seperti yang dialami oleh KRT H. Wijaya Pamungkas S.E. yang mengabdi sejak usia 40 tahun dan KRT Joyodipuro yang baru bergabung di usia 62 tahun.
Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa pengabdian sebagai abdi dalem bukan semata-mata demi materi, melainkan karena panggilan hati dan dedikasi terhadap Kraton Yogyakarta.
Mereka menemukan makna dalam penghormatan, perlindungan, serta ketenangan batin melalui sikap semeleh dan rasa syukur dalam menjalankan tugasnya.
Referensi:
Kanal Pengetahuan Fakultas Filsafat UGM. (2020, 7 Desember). Abdi Dalem: Pengabdian Tak Terbatas. [Video]. Youtube. https://youtu.be/UsLjMknOm8l?si=Mxkg71n33E0X8co
Penulis: Nadya Zuhri, mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang belajar melestarikan budaya.
Posting Komentar