Kekuasaan Singkat Tohjaya: Penderitaan dan Akhir Dinasti
Tohjaya hanya memimpin dalam waktu singkat, kemudian dikudeta dan dibunuh oleh Ranggawuni, anak Anusapati.
![]() |
Ilustrasi momen Tohjaya menikam Anusapati dengan keris Mpu Gandring di tengah keramaian arena sabung ayam di lingkungan keraton Singhasari. (Generatif ChatGPT) |
BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Dalam lembaran sejarah Jawa Kuno, nama Tohjaya mencuat sebagai figur yang diselimuti intrik, kekerasan, dan pemerintahan yang teramat singkat. Kisahnya, yang terekam dalam naskah kuno Pararaton, adalah narasi tentang ambisi, balas dendam, dan putaran kekuasaan yang kejam di Singhasari. Sementara itu, sumber lain seperti Nagarakrtagama memilih bungkam, seolah tak ingin mengukir detail "sejarah yang tidak patut diceritakan". Namun, apa yang terjadi dalam periode kekuasaan Tohjaya yang singkat itu, dan bagaimana ia menemukan akhirnya?
Kekuatan Tohjaya yang Terlalu Singkat
Tohjaya muncul dalam kancah kekuasaan Singhasari melalui jalan berdarah. Ia adalah putra Ken Arok, dan juga merupakan saudara tiri dari Anusapati, raja Singhasari saat itu. Pararaton secara gamblang menceritakan bagaimana Tohjaya, didorong oleh dendam dan ambisi, merencanakan pembunuhan terhadap Anusapati.
Momen krusial itu terjadi saat Anusapati sedang asyik dengan sabung ayamnya. Tohjaya meminta keris legendaris buatan Mpu Gandring – sebuah keris yang juga terlibat dalam kematian Tunggul Ametung dan Ken Angrok sebelumnya – dari Anusapati. Tanpa curiga, Anusapati menyerahkan keris tersebut. Dalam kelengahan raja, di tengah keramaian sabung ayam, Tohjaya menikam Anusapati. Raja Singhasari itu pun gugur di tempat pada tahun Saka 1171, atau sekitar 1249 Masehi. Setelah kematian Anusapati, jenazahnya dimakamkan di Kidal.
Meskipun Nagarakrtagama mengakui adanya masa kekuasaan Wisnuwardhana dan Narasingha yang damai, puisi pujian ini sama sekali tidak menyinggung kisah Tohjaya. Kelangkaan informasi tentang Tohjaya dalam Nagarakrtagama kemungkinan besar disebabkan oleh sifat peristiwa yang "tidak senonoh" dan kekuasaannya yang sangat singkat. Hal ini membuat Pararaton menjadi sumber yang lebih rinci dan seringkali dianggap lebih kredibel untuk detail-detail personal dan intrik politik semacam ini.
Setelah berhasil menyingkirkan Anusapati, Tohjaya segera mengambil alih takhta Singhasari. Namun, ia hanya sempat memimpin dalam waktu yang amat singkat. Pararaton mencatat bahwa Tohjaya wafat pada tahun Saka 1172, atau sekitar 1250 Masehi. Ini menunjukkan bahwa kekuasaannya tidak lebih dari satu tahun, periode yang teramat singkat untuk bisa membangun atau mengukir jejak pemerintahan yang signifikan.
Kudeta dari Anak Anusapati: Ranggawuni
Kematian Anusapati yang tragis tidak berlalu begitu saja. Darah bangsawan dan dendam akan selalu menemukan jalannya dalam sejarah kerajaan. Putra Anusapati, Ranggawuni, yang kemudian dikenal sebagai Wisnuwardhana, tidak tinggal diam. Ia bersama Mahisa Campaka (yang bergelar Narasingha), cucu Ken Angrok (pendiri dinasti Singhasari), melancarkan kudeta untuk menggulingkan Tohjaya.
Pararaton mengisahkan, para pangeran ini, Raden Wisnuwardhana dan Narasingha, memimpin pasukan dan bergerak menuju keraton. Kedatangan mereka mengejutkan Tohjaya. "Tohjaya terkejut, melarikan diri terpisah, ditombak namun tidak langsung tewas," demikian bunyi naskah kuno itu. Dalam kekacauan dan pertempuran, Tohjaya terluka parah.
Tohjaya Gugur di Tangan Ranggawuni
Terluka dan dalam pelarian, Tohjaya terus dikejar oleh pasukan Raden Wijaya (mengacu pada Ranggawuni dan sekutunya, bukan pendiri Majapahit). Ia dibawa oleh pengikutnya yang setia ke Katang Lumbang. Namun, luka yang dideritanya terlalu parah. Pararaton secara unik menyebutkan, "ia tidak lama menjadi raja karena luka di anusnya", sebuah detail brutal yang mengindikasikan akhir hidupnya yang mengenaskan akibat tusukan di bagian belakang saat melarikan diri.
Di Katang Lumbang, Tohjaya akhirnya "mokta" (meninggal atau menghilang) dan dimakamkan. Dengan gugurnya Tohjaya, babak kekerasan yang membelenggu Singhasari selama beberapa tahun berakhir. Setelah kematian Tohjaya, Ranggawuni naik takhta sebagai Raja Wisnuwardhana, dan Mahisa Campaka diangkat sebagai Ratu Angabhaya Bhatara Narasingha. Keduanya memerintah dalam harmoni yang besar, menandai dimulainya periode baru yang lebih stabil bagi Singhasari, setidaknya untuk sementara waktu, sebelum Majapahit kelak muncul dari rahim dinasti ini.
Nagarakrtagama, yang cenderung berfokus pada kemuliaan raja dan stabilitas kerajaan, menyebutkan raja Wisnuwardhana wafat pada tahun Saka 1190 (1268 M) dan dimakamkan di Waleri sebagai Siwa dan di Jajaghu sebagai Buddha. Ini menunjukkan bahwa masa pemerintahan Wisnuwardhana memang berlangsung jauh lebih lama dan damai dibandingkan dengan kekuasaan Tohjaya yang penuh gejolak.
Dengan demikian, kisah Tohjaya adalah cerminan dari dinamika politik yang kejam di Singhasari, di mana tahta seringkali direbut melalui darah dan berakhir dalam penderitaan. Kekuasaannya yang singkat menjadi catatan kaki kelam dalam sejarah Jawa, sebuah pengingat akan beratnya beban mahkota dan siklus balas dendam yang tak berujung.***
Posting Komentar