Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Bulu Perindu: Senjata Gaib Sang Pemikat dan Metode Kritis Menguji Keasliannya

Bulu perindu adalah pusaka pemikat dari sarang elang dan tanaman Merakan. Pelajari pengujian "Nusang" (melawan arus) dan dua jenis warna yang ...

Ilustrasi bulu perindu, benda bertuah sang penakluk. (Generatif Gemini)
Ilustrasi bulu perindu, benda bertuah sang penakluk. (Generatif Gemini)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Di kalangan spiritualis, Bulu Perindu dikenal sebagai salah satu benda bertuah yang memiliki kemampuan paling ampuh dalam hal pemikat dan pelarisan. Meskipun asal-usulnya sering dikaitkan dengan Kalimantan, tanaman yang menghasilkan bulu ini—yang disebut Tanaman Merakan karena bunganya tampak seperti ekor burung Merak—juga terdapat di Tanah Jawa.

Secara fisik, Bulu Perindu memiliki bentuk yang sangat sederhana, mirip dengan rambut namun lebih besar dan kaku. Panjangnya berkisar 5–10 sentimeter. Kekuatan spiritual (tuah) yang paling dicari dari Bulu Perindu adalah kemampuannya sebagai media pengasihan dalam percintaan dan membantu pelarisan dalam berdagang. Aura yang dihasilkan dari pusaka ini biasanya berwarna putih kehijau-hijauan, yang menandakan kekuatan utamanya sebagai pemikat.

Bulu Perindu yang dianggap memiliki kekuatan besar adalah yang pernah digunakan untuk sarang burung, khususnya sarang burung elang di Kalimantan. Mencari Bulu Perindu sangat sulit, terutama karena ia harus didapatkan sebelum telur elang menetas, dan jumlahnya dalam satu sarang sangat sedikit (hanya sekitar 5–8 helai).

Sifat Fisik dan Pengujian Keaslian yang Kritis

Keunikan Bulu Perindu tidak hanya terletak pada kekuatannya, tetapi juga pada sifat fisiknya yang sensitif terhadap air dan kelangkaannya. Terdapat dua jenis Bulu Perindu yang dibedakan berdasarkan warnanya:

1. Bulu Perindu Cokelat: Dianggap masih muda dan memiliki kemampuan yang lebih kecil serta lebih sulit dicari.

2. Bulu Perindu Hitam: Dianggap telah berusia cukup, memiliki kemampuan lebih besar, dan lebih mudah dicari.

Mengingat tingginya permintaan dan potensi pemalsuan, masyarakat Jawa memiliki metode pengujian yang ketat untuk memastikan keaslian Bulu Perindu:

1. Pengujian Putaran (Tes Air Ludah)

Bulu Perindu memiliki sifat unik: ketika berada dalam keadaan kering, ia bersifat keras dan mudah patah, tetapi ketika terkena air, ia akan menjadi lentur. Jika Bulu Perindu dibasahi (misalnya dengan air ludah dari penguji) dan dilihat dari atas genggaman tangan, ia yang asli akan bergerak memutar ke arah kanan. Putaran ini akan berlangsung hingga Bulu Perindu tersebut kering, biasanya sekitar 2–3 menit. Pengujian ini dapat menjadi penentu keaslian.

2. Pengujian Melawan Arus (Nusang)

Pengujian ini memerlukan aliran sungai alami sebagai media mutlak. Bulu Perindu yang asli, bahkan jika kekuatan gaibnya telah hilang atau penunggunya telah pergi, akan tetap bergerak melawan arus air atau ke atas, mirip seperti sifat yang dimiliki oleh Bambu Pethuk. Gerakan melawan arus (disebut nusang) menunjukkan bahwa benda tersebut merupakan pusaka alami.

Mantera dan Risiko Minyak Pengasihan

Penggunaan Bulu Perindu sebagai pemikat memerlukan ritual tertentu. Pengguna harus membasahi Bulu Perindu tersebut, dan kemudian mantera (njawab) dibacakan saat Bulu Perindu telah mulai berputar. Mantera yang digunakan biasanya memiliki pola yang sederhana, seperti meminta Bulu Perindu untuk "menggetarkan hatinya si..." (menyebut nama orang yang dituju).

Selain itu, terdapat benda terkait, yaitu Bambu Perindu (atau bambu temu), yang diyakini dapat menyatu kembali setelah dibelah dua dan diletakkan berseberangan di sungai yang mengalir.

Meskipun kuat, kekuatan Bulu Perindu dapat terpengaruh oleh cara perawatannya. Jika Bulu Perindu direndam di dalam minyak wangi (seperti minyak melati atau sejenisnya) untuk dijadikan minyak pengasih, kekuatan gaib yang berada di dalamnya akan memudar, dan lama-kelamaan ia tidak akan dapat berputar lagi jika terkena air. Ini mengindikasikan bahwa proses pembuatan minyak berisiko mengurangi atau mematikan tuah alaminya.

Daftar Pustaka

Triyogo, A. H. (2005). Benda-Benda Bertuah Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Narasi. Triyogo, A. H. (2005). Orang Jawa, Jimat dan Makhluk Halus. Yogyakarta: Narasi.

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +628587503514
  • redaksibabad.id@gmail.com