![]() |
| Infografis Desa Kajar Dawe Kudus. (babad.id/NotebookLM) |
Desa Kajar yang terletak di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, merupakan salah satu destinasi yang menawarkan keeksotisan alam pegunungan dan suasana pedesaan yang khas bagi para wisatawan. Berada di lereng Gunung Muria, desa ini telah berkembang pesat dari sebuah desa pedesaan biasa menjadi unit Desa Wisata yang diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus pada Oktober 2021. Transformasi ini didorong oleh visi untuk memajukan ekonomi masyarakat melalui optimalisasi potensi sumber daya alam yang melimpah.
Geografi dan Wilayah Administratif
Secara geografis, Desa Kajar terletak di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 550 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang menjadikannya memiliki iklim tropis dengan temperatur udara yang sejuk. Menurut data dalam ulasan Kecamatan Dawe Dalam Angka 2025, desa ini berbatasan langsung dengan Desa Colo di sebelah utara, Desa Lau di sebelah selatan, Desa Piji dan Ternadi di sebelah barat, serta Desa Kuwukan dan Cranggang di sebelah timur.
Berdasarkan Website Resmi Desa Kajar, total luas wilayah desa ini mencapai 504 hektar. Dari luas tersebut, penggunaan lahan terbagi menjadi lahan sawah sebesar 58,68 hektar dan lahan bukan sawah sebesar 445,32 hektar. Lahan bukan sawah tersebut mencakup area pekarangan atau bangunan seluas 101,74 hektar serta tegalan atau kebun seluas 89,54 hektar. Jarak desa ini dari pusat Kecamatan Dawe adalah sekitar 6 km, sementara dari pusat Kabupaten Kudus berjarak kurang lebih 15 km.
Sejarah dan Asal-usul Nama Desa
Asal-usul nama "Kajar" memiliki beberapa versi cerita rakyat yang menarik. Menurut Ensiklopedia Universitas STEKOM, salah satu versi menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kata bahasa Arab, yaitu hajar yang berarti batu (atau watu dalam bahasa Jawa). Kisah lisan setempat menceritakan bahwa Sunan Muria (Raden Umar Said) pernah melintasi kawasan ini yang dulunya merupakan hutan belantara penuh batu besar dan menamainya "Hajar", yang kemudian berubah pelafalannya menjadi "Kajar".
Versi lain yang tercatat dalam Sejarah Desa di Website Resmi Kajar menyebutkan bahwa "Kajar" berasal dari kata "Kajer" yang bermakna "teratur" atau "terorganisasi". Hal ini mencerminkan kehidupan masyarakat desa pada masa lampau yang dikenal sangat harmonis dan teratur. Selain itu, terdapat mitos mengenai "Watu Ketan", yaitu sisa nasi ketan Sunan Muria yang dipercaya berubah menjadi batu dan masih dapat dijumpai di sebelah utara Bumi Perkemahan Kajar.
Kondisi Demografi dan Ekonomi
Berdasarkan dokumen Kecamatan Dawe Dalam Angka 2025, jumlah penduduk Desa Kajar pada tahun 2024 tercatat sebanyak 4.687 jiwa, yang terdiri dari 2.334 laki-laki dan 2.353 perempuan. Tingkat kepadatan penduduk di desa ini mencapai 930 jiwa per km². Sebagian besar masyarakat Desa Kajar bermata pencaharian sebagai petani karena kondisi tanah yang subur untuk tanaman kopi, jahe, kunyit, dan rempah-rempah lainnya.
Sektor ekonomi kreatif dan perdagangan juga mulai tumbuh seiring dengan perkembangan pariwisata. Menurut laporan PPID Kudus, Pemerintah Desa melalui TP PKK aktif mengoptimalkan produk lokal melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) untuk membina pelaku UMKM berskala rumah tangga. Produk unggulan yang dipasarkan meliputi aneka keripik (pisang, talas, sukun) dan kopi Muria yang melimpah.
Destinasi Wisata Unggulan
Desa Kajar memiliki beragam objek wisata yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun luar daerah:
- Pijar Park (Pinus Kajar): Awalnya merupakan Bumi Perkemahan (Buper), kini dikembangkan menjadi taman wisata hutan pinus yang modern. Fasilitas di sini sangat lengkap, mulai dari jembatan pinus untuk berswafoto, flying fox, area bermain motorcross mini, hingga resto dan pujasera. Tiket masuknya pun relatif terjangkau, yaitu Rp10.000 per orang.
- Pijar Resort: Menawarkan pengalaman menginap di vila-vila unik dengan bentuk estetis yang dikelilingi hutan pinus di lereng Muria. Tempat ini sangat direkomendasikan untuk kegiatan healing karena suasananya yang tenang dan asri.
- Taman Sardi: Dikenal juga sebagai Taman Menara Pisang, tempat ini menawarkan panorama alam eksotis dengan fasilitas camping ground, gedung serbaguna, dan area rekreasi keluarga.
- Green House Anggrek: Menjadi daya tarik baru yang mengoleksi puluhan ragam jenis anggrek, seperti anggrek bulan mini, dendrobium, hingga anggrek hitam Papua.
Kekayaan Kuliner Khas
Salah satu ikon kuliner Desa Kajar adalah Gethuk Nyimut. Menurut ulasan di Jateng Live Event, camilan ini berbahan dasar singkong rebus yang dihaluskan, dibentuk bulat kecil, diisi gula, lalu digoreng. Nama "Nyimut" sendiri bermula dari sebutan "Gethuk Imut" oleh seorang warga keturunan Tionghoa yang kemudian populer di masyarakat. Gethuk ini memiliki tekstur garing di luar namun lembut di dalam, dan sangat cocok dinikmati hangat-hangat bersama secangkir kopi Muria.
Tata Kelola Kolaboratif dan Pengembangan Desa
Keberhasilan Desa Kajar menjadi desa wisata tidak terlepas dari model Collaborative Governance. Menurut studi dari UIN Walisongo, pengelolaan wisata di desa ini melibatkan kolaborasi antara Pemerintah Desa, investor (CV Karya Pijar Utama), dan masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pemerintah desa bertindak sebagai inisiator, sementara investor menyediakan modal pengembangan infrastruktur, dan warga terlibat langsung sebagai tenaga kerja atau pengelola unit usaha.
Dampak dari tata kelola ini sangat signifikan. Berdasarkan data Pokdarwis Kajar, jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari 8.931 orang pada tahun 2021 menjadi 10.069 orang pada tahun 2023. Hal ini juga mendorong pertumbuhan jumlah pedagang dan UMKM di sekitar lokasi wisata, yang meningkat dari 29 unit pada 2021 menjadi 42 unit pada 2023.
Kehidupan Sosial dan Budaya
Masyarakat Desa Kajar masih memegang teguh tradisi gotong royong dan ritual adat. Menurut Website Desa Kajar, tradisi Sedekah Bumi rutin dilaksanakan sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah dan untuk menjaga keharmonisan dengan alam. Selain itu, terdapat tradisi Guyang Cekatak yang dilaksanakan pada Jumat Wage di bulan September sebagai ritual meminta hujan. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan juga meningkat seiring dengan adanya edukasi pariwisata, di mana warga dan pengelola secara rutin melakukan kerja bakti membersihkan sampah di kawasan wisata demi kenyamanan pengunjung.
Desa Kajar merupakan potret keberhasilan transformasi pedesaan yang mampu menyinergikan kearifan lokal dengan inovasi modern. Dengan dukungan alam yang asri, kuliner yang melegenda, serta tata kelola kolaboratif yang solid, Desa Kajar tidak hanya menjadi kebanggaan Kecamatan Dawe, tetapi juga menjadi pilar penting bagi pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Kudus.
Daftar Bacaan
Adminstr. (2022, Maret 14). Kajar Jadi Desa Wisata Di Kudus. Website Resmi Desa Kajar. https://desa-kajar.kuduskab.go.id/kajar-desawisata/
Aji, D. U. (2022, September 25). Asyiknya Berburu Foto di Hutan Pinus Kajar Lereng Muria Kudus. detikcom. https://www.detik.com/jateng/wisata/d-6311122/asyiknya-berburu-foto-di-hutan-pinus-kajar-lereng-muria-kudus
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus. (2025). Kecamatan Dawe Dalam Angka 2025. https://kuduskab.bps.go.id/
Hakim, A. R. (2023). Tata kelola kolaboratif pengelolaan desa wisata (studi desa kajar kecamatan dawe kabupaten kudus) [Skripsi S-1, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang]. Repository UIN Walisongo.
Pertiwi, N. N. E. (2018, Januari 30). Kuliner Kudus: Gethuk Nyimut Kajar Khas Kudus Yang Terkenal. Jateng Live. https://jatenglive.com/tampil-berita/Kuliner-Kudus--Gethuk-Nyimut-Kajar-Khas-Kudus-Yang-Terkenal
PPID Kabupaten Kudus. (2022, Maret 24). Desa Kajar Optimalkan Produk Lokal melalui Peran UP2K. https://ppid.kuduskab.go.id/
Universitas STEKOM Semarang. (n.d.). Kajar, Dawe, Kudus. Ensiklopedia Dunia. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kajar,_Dawe,_Kudus
Website Resmi Desa Kajar. (2023, Januari 4). Sejarah Desa - Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. https://desa-kajar.kuduskab.go.id/artikel/sejarah-desa
