![]() |
| Infografis Desa Colo Dawe Kudus. (babad.id/NotebookLM) |
Letak Geografis dan Karakteristik Wilayah
Menurut Laporan Kecamatan Dawe dalam Angka 2025, Desa Colo merupakan bagian dari wilayah administratif Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dengan luas wilayah sebesar 5,84 km2 atau berkontribusi sekitar 6,80 persen dari total luas kecamatan. Secara geografis, desa ini terletak di kawasan Pegunungan Muria dengan ketinggian rata-rata mencapai 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga titik tertinggi sekitar 1.200 mdpl.
Berdasarkan ulasan dalam Wikipedia bahasa Indonesia, Desa Colo berjarak sekitar 18 kilometer ke arah utara dari pusat Kota Kudus. Wilayahnya dikelilingi oleh bentang alam yang asri dengan batas-batas yang mencakup hutan lindung di sisi utara, serta berbatasan langsung dengan desa-desa tetangga seperti Desa Japan, Desa Kajar, dan Desa Ternadi. Udara yang sejuk dan panorama pegunungan menjadikan desa ini sebagai salah satu destinasi ekowisata utama di Jawa Tengah.
Sejarah dan Jejak Dakwah Sunan Muria
Sejarah Desa Colo tidak dapat dipisahkan dari sosok Raden Umar Said atau Sunan Muria. Menurut dokumen Sejarah Desa Colo, nama "Colo" dikaitkan dengan kedatangan Sunan Muria yang memilih tinggal di tempat yang sepi dan tinggi untuk berdakwah. Berdasarkan penelitian dalam Tugas Akhir Nova Ayu Wardani (2021), Sunan Muria dikenal menggunakan pendekatan seni dan budaya yang moderat dalam menyebarkan ajaran Islam, seperti melalui media tembang Sinom dan Kinanthi.
Kompleks makam Sunan Muria yang berada di puncak gunung kini menjadi pusat kunjungan wisata religi. Menurut Jurnal Arsitektur ARCADE (2024), eksistensi makam ini telah memberikan pengaruh besar terhadap tata ruang desa, di mana banyak rumah warga yang awalnya berbasis pertanian kini beralih fungsi menjadi area komersial untuk melayani peziarah.
Kondisi Demografi dan Sosial Masyarakat
Data terbaru dari Kecamatan Dawe dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Desa Colo tercatat sebanyak 4.534 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk desa ini mencapai 776 jiwa per km2. Struktur pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa dan didukung oleh jajaran perangkat desa yang terdiri dari Sekretaris Desa, 4 Kepala Urusan (Kaur), dan 3 Kepala Seksi (Kasi).
Masyarakat Desa Colo dikenal sangat majemuk namun tetap menjunjung tinggi toleransi. Menurut Wikipedia, meskipun mayoritas beragama Islam, terdapat keragaman pandangan keagamaan mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Ahmadiyyah, serta pemeluk agama lain seperti Kristen dan Buddha yang hidup berdampingan secara harmonis. Semangat gotong royong warga juga terlihat dalam pemeliharaan sarana ibadah dan jalur wisata secara swadaya.
Transformasi Ekonomi dan Sektor Pariwisata
Keberadaan objek wisata religi telah mengubah struktur ekonomi masyarakat secara signifikan. Menurut Jurnal ARIMA (2024), warga yang sebelumnya mayoritas bekerja sebagai petani kini banyak yang beralih profesi menjadi pedagang, pengelola penginapan, dan penyedia jasa transportasi. Salah satu pilar ekonomi yang unik di desa ini adalah keberadaan Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria (AASMM) atau ojek Muria.
Berdasarkan artikel Report Actual (2024), para pengemudi ojek Muria merupakan warga asli desa yang beroperasi dalam dua shift selama 24 jam untuk melayani wisatawan yang hendak menuju makam wali. Selain itu, menurut Laporan Penelitian Widjanarko (2010), masyarakat telah memiliki kesadaran tinggi dalam mengembangkan potensi ekowisata, seperti pengelolaan jalur pendakian dan paket wisata kopi.
Ragam Destinasi Wisata Unggulan
Desa Colo menawarkan perpaduan wisata religi, alam, dan edukasi. Menurut Atourin dan Wikipedia, beberapa objek wisata populer meliputi:Wisata Religi: Makam Sunan Muria dan Makam Syech Nurrudin Abul Hasan Sadzali.Wisata Alam: Air Terjun Monthel, Bukit Puteran, Bukit Sepuser, dan Puncak Argopiloso yang menantang bagi pendaki.Wisata Edukasi: Sejak tahun 2013, dikembangkan edukasi membatik dengan motif parijoto serta pengolahan kopi Muria yang dikelola oleh POKDARWIS.
Pelestarian Tradisi dan Kearifan Lokal
Masyarakat Desa Colo sangat teguh menjaga tradisi sebagai wujud syukur dan pelestarian alam. Menurut JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner (2025), salah satu ritual yang paling ikonik adalah Guyang Cekathak, yaitu prosesi memandikan pelana kuda milik Sunan Muria di Sendang Rejoso untuk memohon hujan. Tradisi ini kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.
Selain itu, terdapat tradisi Parade Sewu Kupat. Berdasarkan laporan detikNews (2026), parade ini dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Muria, di mana ribuan ketupat disusun menjadi gunungan dan diarak menuju makam. Tradisi lain yang rutin dilakukan adalah Buka Luwur atau penggantian kain penutup makam yang puncaknya jatuh pada tanggal 15 Muharram.
Potensi Kuliner dan Produk Khas
Kuliner autentik menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan. Menurut detikFood, hidangan paling khas adalah Pecel Pakis Colo. Berbeda dengan pecel biasa, hidangan ini menggunakan sayur pakis dari hutan Muria dan bumbu kacang yang kaya akan aroma kencur serta jeruk purut.
Desa Colo juga dikenal sebagai penghasil buah Parijoto. Menurut Mongabay, buah berwarna ungu ini merupakan simbol konservasi pegunungan yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan bagi ibu hamil. Saat ini, parijoto telah diolah secara inovatif menjadi sirup, permen, dan teh. Selain itu, Kopi Muria menjadi komoditas unggulan yang luas lahannya mencapai ratusan hektar dan produknya telah menembus pasar ekspor ke Singapura, Malaysia, hingga Belanda.
Daftar Bacaan
Azzahrawani, F., et al. (2024). Tradisi Guyang Cekathak Sebagai Wujud Pelestarian Alam Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Desa Colo Kabupaten Kudus. Tazkir: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman, 10(1), 81-94.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus. (2025). Kecamatan Dawe Dalam Angka 2025. Kudus: BPS Kabupaten Kudus.
Ifada, E. N., et al. (2025). Pelaksanaan Tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso dan Relevansinya terhadap Integrasi Nilai-Nilai IPS Berbasis Kearifan Lokal. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 02(03), 2638-2648.
Lestari, A. E., et al. (2025). Tradisi Guyang Cekathak (Prosesi Meminta Hujan) di Lereng Gunung Muria, Desa Colo Kecamatan Dawe. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 02(03), 2840-2849.
Nahar, A. N., et al. (2024). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Colo Kudus. ARIMA: Jurnal Sosial Dan Humaniora, 1(4), 308-316.
Prasetya, H., et al. (2024). Pengaruh Kompleks Wisata Sunan Muria terhadap Tata Ruang dan Lingkungan Permukiman. Jurnal Arsitektur ARCADE, 8(1), 11-16.
Wardani, N. A. (2021). Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata (Studi di Desa Wisata Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus) (Tugas Akhir). Universitas Semarang, Semarang.
Widjanarko, M., & Vismari'ein. (2010). Identifikasi Sosial Potensi Ekowisata Berbasis Peran Masyarakat Lokal. Laporan Penelitian, Universitas Muria Kudus.
