Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Museum Tani Jawa Bantul: Belajar Laku Hidup dari Sawah

Mengapa luku dan lesung menyimpan filosofi laku hidup? Simak ulasan Museum Tani Jawa Indonesia Bantul di babad.id dan temukan maknanya!
Lesung tradisional, salah satu koleksi di Museum Tani Jawa Bantul. (dok pribadi)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Sebuah cangkul mungkin tampak sebagai benda sederhana. Begitu pula luku, garu, lesung, ani-ani, atau berbagai peralatan pertanian lain yang dahulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Namun, ketika benda-benda tersebut ditempatkan di Museum Tani Jawa Indonesia, benda-benda itu tidak lagi sekadar menjadi alat. Ia menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana masyarakat bertani, bekerja, membangun kehidupan, dan mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Berada di Dusun Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul, bangunan museum ini memang tidak terlalu besar dan megah layaknya museum milik negara. Tempat ini dikelola murni secara swadaya oleh pengurus dan masyarakat setempat. Namun, di balik kesederhanaan bangunannya, Museum Tani Jawa Indonesia menyimpan koleksi peralatan pertanian dari masa tradisional hingga modern, sekaligus merekam napas panjang kehidupan agraris desa tersebut. Gagasan merintis museum ini perlahan muncul setelah Kebonagung memperoleh penghargaan dalam lomba pertanian tingkat nasional pada 1994 dan 1998. Pengumpulan alat-alat pertanian kemudian dilakukan sebagai bagian dari upaya mengenalkan dan melestarikan pengetahuan mengenai kehidupan tani.

Museum Tani sempat berdiri di joglo milik Subandi, Dukuh Kanten, pada 26 September 2005. Namun, bangunan tersebut hancur akibat gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Museum kemudian dibangun kembali dan pada 4 Mei 2007 menempati lokasi baru di Candran.

Sejak awal, museum ini memang tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat penyimpanan benda lama. Pemerintah Kabupaten Bantul menjelaskan bahwa Museum Tani diarahkan menjadi pusat pengetahuan mengenai pertanian, budaya, dan tradisi tani, sekaligus tempat pengunjung dapat belajar dan merasakan secara langsung kehidupan petani melalui berbagai aktivitas seperti membajak, menanam padi, menggunakan ani-ani, hingga membuat makanan tradisional.

Benda yang Tidak Sekadar Menjadi Koleksi


Menurut Rahayuningsih, salah satu pengurus Museum Tani, setiap benda yang ada di museum memiliki filosofi tersendiri. Sebagian benda tersebut merupakan peralatan asli yang dahulu digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan benda-benda tersebut menjadi penting karena memperlihatkan secara langsung teknologi dan cara kerja masyarakat sebelum banyak pekerjaan pertanian beralih menggunakan mesin.

Dengan demikian, sebuah alat pertanian dapat dilihat tidak hanya berdasarkan fungsi praktisnya, tetapi juga berdasarkan pengalaman dan nilai yang menyertainya.

Luku, misalnya, bukan sekadar kayu dan besi pengoyak tanah. Menurut penuturan Rahayuningsih, luku menyimpan filosofi mendalam yang bersumber dari kata laku atau mlaku—sebuah simbol tentang bagaimana manusia harus terus berjalan dan berproses menjalani kehidupan. Pengalaman memaknai laku ini terasa semakin hidup, sebab tepat di depan beranda museum terhampar area persawahan. Pengunjung tidak hanya menatap luku yang membisu di ruang pamer, tetapi bisa langsung melemparkan pandangan ke luar, menyaksikan para petani yang sedang mlaku menuntun bajak. Dari visual itulah kita sadar bahwa di balik setiap prosesnya, terdapat tahapan, keteraturan, kerja keras, dan pengetahuan yang diwariskan.

Cara pandang semacam inilah yang membuat koleksi Museum Tani menarik untuk dibaca lebih jauh. Benda menjadi pintu masuk untuk memahami manusia yang menggunakannya.

Ketika Alat Tradisional Bertemu Teknologi Modern


Perubahan zaman membuat sebagian alat pertanian tradisional perlahan dipensiunkan. Luku yang terbuat dari rangkaian kayu kokoh itu, misalnya, kini lebih banyak bersandar diam di sudut ruangan museum. Posisinya perlahan digantikan oleh mesin modern yang menawarkan efisiensi lebih besar. Pengunjung bahkan bisa melihat langsung transisi ini; dari teras museum, pandangan akan langsung tertuju pada hamparan persawahan warga tempat gemuruh suara traktor kini lebih sering terdengar menggantikan langkah pelan sapi penarik bajak.

Perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan arti dari peralatan tradisional. Justru, keberadaan keduanya di dalam narasi museum dapat memperlihatkan perjalanan perubahan kehidupan masyarakat: dari teknologi yang mengandalkan tenaga manusia menuju teknologi yang menawarkan efisiensi lebih besar.

Di titik inilah koleksi museum saling berdialog. Berdampingannya alat tradisional dan mesin modern memperlihatkan kepada pengunjung tentang bagaimana petani beradaptasi, dari yang awalnya mengandalkan harmoni tenaga manusia dan alam, kini bergeser menuju tuntutan efisiensi.

Koleksi Museum Tani sendiri mencakup berbagai peralatan pertanian Jawa, seperti garu, bajak, cangkul, sabit, gosrok, keranjang, lumpang, ani-ani, caping, hingga peralatan pengolahan pangan dan kesenian seperti lesung. Terdapat pula benda-benda yang berkaitan dengan ritual dan tradisi pertanian.

Dari Proses Bertani ke Filosofi Kehidupan


Menurut penuturan Rahayuningsih, filosofi yang terkandung dalam benda-benda tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Proses pertanian, misalnya, mengajarkan bahwa sebuah hasil tidak diperoleh secara instan. Ada tahapan yang harus dijalani, ada proses yang membutuhkan ketekunan, dan ada keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman.

Hal serupa dapat ditemukan dalam cara masyarakat memaknai proses pengolahan hasil pertanian. Tahapan yang dilakukan dari satu proses ke proses berikutnya dapat menjadi analogi mengenai bagaimana manusia menjalani kehidupan: sesuatu yang baik membutuhkan proses, ketelitian, dan lingkungan yang mendukung.

Bahkan, nilai-nilai tersebut dapat dibawa ke dalam hubungan antarmanusia. Sebagaimana seseorang memilih lingkungan pergaulan yang baik, kehidupan masyarakat juga dibangun melalui hubungan dan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Penting untuk melihat penafsiran ini sebagai cara pengurus museum memaknai koleksi, bukan sebagai satu-satunya tafsir mengenai filosofi masyarakat Jawa. Justru keberagaman penafsiran tersebut menunjukkan bahwa benda-benda tradisional dapat menjadi media untuk membuka percakapan mengenai nilai, pengalaman, dan cara pandang masyarakat.

Dari Artefak Menjadi Cerita


Di balik sebuah alat terdapat cara menggunakannya. Di balik cara menggunakan terdapat kebiasaan. Di balik kebiasaan terdapat kehidupan sosial. Dan di balik kehidupan tersebut terdapat nilai yang diwariskan.

Karena itu, pengunjung dapat melihat koleksi Museum Tani melalui pertanyaan yang lebih luas: siapa yang menggunakan benda tersebut, untuk apa, bagaimana cara menggunakannya, dan nilai apa yang dapat dipelajari dari kehidupan masyarakat yang menggunakannya?

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan Museum Tani sebagai pusat pengetahuan, informasi, budaya, dan tradisi tani. Museum juga dirancang agar pengunjung tidak hanya mengetahui, tetapi melakukan dan merasakan pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan petani sehingga dapat memahami nilai-nilai seperti kesederhanaan, kerja keras, kejujuran, dan rasa syukur.

Museum juga memiliki berbagai aktivitas yang menghubungkan koleksi dengan praktik budaya, termasuk kegiatan pertanian, memasak tradisional, seni pertunjukan, festival memedi sawah, hingga pameran hasil pertanian.

Menjaga Benda, Menghidupkan Cerita


Tantangan museum pada akhirnya bukan hanya menjaga agar benda-benda lama tetap tersimpan. Tantangan yang tidak kalah penting adalah memastikan cerita di balik benda tersebut tetap dipahami.

Karena itu, Museum Tani Jawa Indonesia dapat dipandang sebagai ruang yang mempertemukan masa lalu dengan masa kini. Teknologi pertanian boleh berubah, alat dapat berganti, dan cara bekerja dapat menjadi semakin modern. Namun, pengetahuan tentang bagaimana masyarakat membangun kehidupan melalui pertanian tetap memiliki nilai untuk dipelajari.

Pada akhirnya, Museum Tani bukan hanya tentang bagaimana masyarakat dahulu bertani, tetapi tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan. Di dalam cangkul, lesung, luku, atau alat-alat pertanian lainnya tersimpan jejak kerja, pengetahuan, hubungan sosial, serta nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menjaga museum, dengan demikian, bukan hanya menjaga benda agar tidak hilang. Menjaga museum berarti menjaga cerita agar tetap hidup.***

Penulis: Nila Umi Salamah, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), penikmat kajian budaya.

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +628587503514
  • redaksibabad.id@gmail.com