Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Bathara Wisnu: Raja Pertama di Tanah Jawa dan Takdir Pengasingannya

Kisah Bathara Wisnu yang turun ke bumi dan bergelar Prabu Set serta murka Bathara Guru akibat pernikahan putri Mendhang
Ilustrasi Bathara Wisnu. (babad.id/Gemini Notebook)
Ilustrasi Bathara Wisnu. (babad.id/Gemini Notebook)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Tahukah Anda bahwa dalam tradisi kronik Jawa klasik Babad Tanah Jawi, silsilah para raja Jawa ditelusuri hingga ke nabi pertama dan dewa-dewa mitologis? Lebih mengejutkan lagi, raja pertama yang bertakhta di Pulau Jawa adalah dewa legendaris Bathara Wisnu yang bergelar Prabu Sèt—sebelum sebuah konflik tak terduga dengan ayahnya sendiri memaksa sang dewa turun dari takhta dan bersemadi di tengah hutan!

Melalui bab ini, Anda akan mempelajari kisah asal-usul kekuasaan di Tanah Jawa menurut naskah Babad Tanah Jawi versi C.F. Winter Sr.

Silsilah Ilahiah dan Turunnya Bathara Wisnu ke Pulau Jawa


Kisah sejarah Jawa dalam Babad Tanah Jawi dibuka dengan sebuah sintesis kosmologis yang unik: memadukan silsilah kenabian Islam dengan mitologi Hindu-Jawa. Garis keturunan raja-raja Jawa ditarik garis lurus mulai dari Nabi Adam, yang memiliki putra bernama Sis. Garis keturunan ini berlanjut berturut-turut melalui Nurcahya, Nurasa, Sang Hyang Wenang, hingga Sang Hyang Tunggal.

Dari Sang Hyang Tunggal, lahir Bathara Guru, penguasa kedewataan yang bersemayam di istana langit bernama Suralaya. Bathara Guru memiliki lima orang putra-putri, yaitu:
  • Bathara Sambo
  • Bathara Brama
  • Bathara Mahadéwa
  • Bathara Wisnu
  • Dèwi Sri

Untuk mengelola keduniaan, Bathara Wisnu diutus turun ke bumi dan dilantik menjadi penguasa pertama atas Pulau Jawa. Dalam peran kepemimpinannya di bumi, Bathara Wisnu memakai gelar Prabu Sèt. Pendaulatan ini menandai dimulainya babak baru garis kekuasaan kerajaan di Tanah Jawa, di mana tatanan kosmis dan politik manusia bersatu di bawah naungan dewa yang menjelma menjadi raja.

Konflik Ayah dan Anak di Suralaya


Kedudukan Bathara Wisnu sebagai Prabu Sèt di Pulau Jawa tidak berjalan tanpa rintangan. Sebuah insiden kesalahpahaman memicu retaknya hubungan antara sang penguasa langit, Bathara Guru, dan putranya sendiri.

Kisah bermula ketika Bathara Guru menaruh hati pada seorang putri jelita dari Kerajaan Mendhang. Sang putri telah dipingit dan dipersiapkan secara khusus oleh Bathara Guru untuk diboyong ke kayangan Suralaya sebagai istrinya. Namun, janji dan niat rahasia ini tidak diketahui oleh putra-putranya.

Ketika Bathara Wisnu sedang berkeliling menjelajahi wilayah kekuasaannya di bumi, ia tidak sengaja berjumpa dengan putri dari Mendhang tersebut. Terpesona oleh kecantikannya dan tanpa menyadari bahwa wanita itu adalah calon istri ayahnya, Bathara Wisnu meminang dan menjadikannya istri.

Saat kabar ini terdengar hingga ke Suralaya, Bathara Guru sangat murka. Merasa dilangkahi dan dikhianati, sang raja dewa mengambil tindakan tegas. Ia mengutus pengageng kayangan, Sang Hyan g Narada, untuk turun ke bumi membawa titah hukuman: menyampaikan kemurkaan sang ayah sekaligus mencopot kekuasaan Bathara Wisnu sebagai raja di Pulau Jawa.

Pengasingan Diri dan Pertapaan di Bawah Tujuh Pohon Waringin


Menerima utusan kehormatan Sang Hyang Narada yang membawa keputusan pemakzulannya, Bathara Wisnu mematuhi kehendak ayahnya tanpa melakukan perlawanan fisik. Ia melepaskan mahkota kekuasaan Prabu Sèt dan meninggalkan istananya.

Namun, perpisahan ini juga membawa kepedihan keluarga. Bathara Wisnu memutuskan untuk meninggalkan istrinya (sang putri dari Mendhang) di kerajaan. Ia melangkah masuk jauh ke dalam belantara sunyi untuk melakukan pengasingan diri dan bertapa.

Lokasi yang dipilihnya untuk menenangkan diri dan menghimpun kekuatan spiritual adalah sebuah tempat yang teduh, dinaungi oleh deretan tujuh pohon waringin (seven waringin trees).

Langkah pertapaan di bawah tujuh pohon waringin ini memiliki makna mendalam dalam tradisi Jawa:
  • Bentuk Kepatuhan dan Penyesalan: Sikap legawa menerima hukuman dari sang ayah/penguasa puncak.
  • Penyucian Spiritual: Memurnikan diri dari kesalahan yang tidak disengaja sebelum nantinya dipanggil kembali saat kayangan membutuhkan kekuatannya.
  • Fondasi Mitologis: Menjadi latar belakang penting bagi kelahiran putranya kelak, Radèn Srigati, yang tumbuh dewasa saat sang ayah masih dalam masa pertapaan di bawah pohon waringin tersebut.

Ringkasan


Kisah awal Babad Tanah Jawi menegaskan legitimasi ilahiah raja-raja Jawa yang ditarik dari perpaduan silsilah Kenabian dan Kedewataan. Pendaulatan Bathara Wisnu sebagai Prabu Sèt serta dinamika konfliknya dengan Bathara Guru menunjukkan bahwa kepemimpinan dan ujian spiritual senantiasa berdampingan dalam membentuk tatanan sejarah Jawa.
  • Silsilah Kosmologis: Babad Tanah Jawi menghubungkan Nabi Adam hingga Sang Hyang Tunggal, yang melahirkan Bathara Guru di Suralaya.
  • Raja Pertama Jawa: Bathara Wisnu dinobatkan menjadi penguasa pertama Pulau Jawa dengan gelar Prabu Sèt.
  • Akar Konflik: Kesalahpahaman terjadi ketika Bathara Wisnu menikahi putri dari Mendhang yang sebenarnya telah dicadangkan oleh Bathara Guru.
  • Utusan Suralaya: Sang Hyang Narada diutus untuk menyampaikan kemurkaan Bathara Guru dan melengserkan kekuasaan Wisnu.
  • Pertapaan Waringin: Bathara Wisnu mengasingkan diri dan bertapa di bawah naungan tujuh pohon waringin, meninggalkan istrinya di kerajaan.

Sumber Bacaan: 

Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +6285875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com