Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Kisah Baru Klinting: Naga Berwujud Manusia dan Asal Mula Terciptanya Danau Rawa Pening

Legenda Baru Klinting & asal-usul Rawa Pening di Ambarawa. Kisah naga ajaib, lidi sakti, dan banjir yang menenggelamkan desa. Simak selengkapnya!
Ilustrasi Baru Klinting mencabut lidi dari tanah yang menyemburkan air hingga menjadi Rawa Pening. (babad.id/Gemini Notebook)
Ilustrasi Baru Klinting mencabut lidi dari tanah yang menyemburkan air hingga menjadi Rawa Pening. (babad.id/Gemini Notebook)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Siapakah Baru Klinting dan Bagaimana Asal-Usul Rawa Pening? 

Baru Klinting adalah putra dari Ki Ajar Salokantara dan pelayannya, Endang Ariwulan, dari lereng Gunung Ungaran. 

Terlahir berwujud ular naga ajaib yang berkalung klintingan (genta), ia membuktikan silsilahnya dengan melingkari Gunung Sleker. 

Setelah lidahnya dipotong dan menjadi pusaka Kyai Sengkelat, jiwanya menjelma menjadi anak kecil yang kumal. 

Karena dihina dan diusir warga Desa Patok saat pesta selamatan, Baru Klinting menancapkan sebatang lidi; saat lidi dicabut, memancarlah air dahsyat yang menenggelamkan desa tersebut hingga menjadi Rawa Pening. Hanya Nyai Lembah, janda tua yang baik hati, yang selamat dengan menaiki lesung.

Kisah Legenda Baru Klinting & Rawa Pening


Pisau Sakti Ki Ajar Salokantara dan Kelahiran Ular Naga


Pada zaman Mataram Hindu (sekitar abad ke-9 hingga 11 M), hidup seorang pertapa sakti bernama Ki Ajar Salokantara di lereng Gunung Ungaran, dekat lokasi Candi Gedong Songo. 

Dalam pertapaannya, Ki Ajar dibantu oleh seorang abdi perempuan bernama Endang Ariwulan.

Suatu hari, ketika hendak memotong sayuran, Endang Ariwulan bermaksud meminjam pisau milik sang pendeta. 

Ki Ajar mengizinkannya, tetapi memberikan pesan tegas: "Jangan sekali-kali meletakkan pisau ini di pangkuanmu!". 

Namun, karena sibuk memasak, Endang Ariwulan lupa dan meletakkan pisau itu di pangkuannya.

Seketika pisau tersebut lenyap. Akibat kejadian gaib ini, Endang Ariwulan mengandung.

Karena merasa malu, Ki Ajar Salokantara memutuskan pergi bertapa ke Gunung Telomoyo di daerah Banyubiru.

Sebelum berangkat, Ki Ajar berpesan bahwa jika anak tersebut lahir, hendaknya diberi tanda klintingan atau genta.

Betapa terkejutnya Endang Ariwulan ketika bayi yang dilahirkan tidak berwujud manusia, melainkan seekor ular naga yang ajaibnya bisa berbicara bahasa manusia.

Dengan penuh kasih sayang, Endang Ariwulan merawat ular naga tersebut hingga tumbuh besar.

Ujian Melingkari Gunung Sleker dan Asal-Usul Pusaka Kyai Sengkelat


Ketika tumbuh besar, ular naga tersebut menanyakan keberadaan ayahnya. Sang ibu menjelaskan bahwa ayahnya adalah Ki Ajar Salokantara yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. 

Dengan mengalungkan genta (klintingan) di lehernya, naga tersebut berangkat menyusuri hutan dan desa demi mencari sang ayah, sehingga ia dijuluki Baru Klinting.

Sesampainya di Gunung Telomoyo, Baru Klinting bertemu dengan Ki Ajar Salokantara dan mengaku sebagai anaknya. 

Ki Ajar mau mengakui Baru Klinting sebagai putra kandungnya dengan satu syarat: ia harus mampu melingkari Gunung Telomoyo (Gunung Sleker) dari kepala hingga bertemu ekornya. 

Baru Klinting pun bertapa sambil melingkari gunung tersebut.

Setelah bertahun-tahun bertapa, panjang tubuh Baru Klinting kurang seperempat meter lagi untuk mencapai ekornya. 

Karena sangat ingin diakui sebagai anak, Baru Klinting menjulurkan lidahnya agar dapat menyentuh ekornya. 

Mengetahui hal itu, Ki Ajar segera memotong lidah Baru Klinting. 

Potongan lidah naga tersebut jatuh dan menjelma menjadi senjata pusaka sakti bernama Kyai Sengkelat atau Pleret Baru Klinting.

Wujud fisik ular naga itu pun mati, arwahnya dimakamkan di Banarawa, dan jiwanya menjelma menjadi seorang anak laki-laki kecil yang buruk rupa, berkepala benjol, dan berbadan kumal.

Daging Naga untuk Pesta Desa Patok dan Kebaikan Nyai Lembah


Suatu ketika, warga Desa Patok tengah bergotong royong berburu hewan di hutan untuk mengadakan perayaan sedekah desa. 

Di tengah hutan, warga menemukan bangkai ular naga raksasa yang tidak lain adalah jasad fisik Baru Klinting. 

Tanpa menyadari hakikatnya, warga memotong-motong daging naga tersebut dan membawanya pulang untuk dimasak dalam pesta desa.

Di saat pesta selamatan berlangsung meriah di rumah Kepala Desa Patok, datanglah anak kecil penjelmaan Baru Klinting dalam keadaan sangat lapar. 

Ia memohon sedikit makanan, tetapi warga Desa Patok yang sombong malah mengejek, memaki, dan mengusirnya.

Dengan hati sedih dan perut kosong, Baru Klinting berjalan ke pinggir desa dan sampai di gubuk reot milik seorang janda tua bernama Nyai Lembah. 

Berbeda dengan warga desa lainnya, Nyai Lembah menyambut anak kecil itu dengan ramah, mendengarkan kisahnya, dan menyuguhkan makanan seadanya. 

Sebagai rasa terima kasih, Baru Klinting berpesan kepada Nyai Lembah: "Nenek, jika nanti tiba-tiba terjadi banjir besar, segeralah naik ke dalam lesung penumbuk padi dan gunakan enthong (pengaduk nasi) sebagai dayungnya!".
 

Tancapan Lidi Baru Klinting dan Terciptanya Rawa Pening


Setelah dari rumah Nyai Lembah, Baru Klinting kembali ke tengah alun-alun perayaan Desa Patok. 

Di depan warga dan anak-anak yang mengerumuninya, Baru Klinting menancapkan sebatang lidi (sada) ke dalam tanah. 

Ia menantang siapapun di desa itu untuk mencabut lidi tersebut.

Satu per satu warga, mulai dari anak-anak hingga pemuda dan orang tua yang paling digdaya, mencoba mencabut lidi itu, tetapi tak seorang pun berhasil. 

Dengan tenang, Baru Klinting maju dan mencabut lidi itu dengan sangat mudah.

Seketika dari bekas tancapan lidi tersebut, menyemburlah mata air yang sangat deras dan dahsyat. 

Air terus meluap tanpa henti hingga menenggelamkan seluruh Desa Patok beserta warga yang angkuh. 

Genangan air jernih yang sangat luas itu kelak dinamakan Rawa Pening.

Tanah yang menempel pada lidi saat dicabut terlempar sejauh beberapa kilometer dan membentuk gundukan bukit bernama Gunung Kendalisodo (Kendaling Sodo). 

Lidi itu sendiri diyakini menjelma menjadi ular gaib penunggu Rawa Pening bernama Kyai Sarpobongso. 

Sementara itu, hanya Nyai Lembah yang selamat dari bencana tersebut karena menaiki lesung sesuai pesan Baru Klinting. 

Lesung batu tersebut kini dikenal sebagai Batu Mangkelang di Sungai Tuntang, dan dayungnya hanyut ke daerah yang kini bernama Welahan (welah = dayung).***

Bahan Bacaan: 


Wahono. (1996). Mengenal Beberapa Legenda Daerah Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Semarang dan Grobogan. Pemprov Jawa Tengah.


0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +6285875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com