Mimpi Sang Raja dan Misi Diplomatik Patih Gajah Mada
Kisah ini bermula di istana Kerajaan Majapahit. Pada suatu malam, Prabu Brawijaya mendapatkan sebuah penglihatan berupa mimpi yang sangat berkesan. Dalam mimpinya, sang raja bersanding dan menikahi seorang putri cantik yang berasal dari Negeri Cempa—sebuah wilayah seberang lautan.
Keesokan harinya, segera setelah terbangun dari tidurnya, Prabu Brawijaya memanggil wazir utamanya, Patih Gajah Mada. Sang raja memerintahkan Patih Gajah Mada untuk berlayar menuju Negeri Cempa sambil membawa surat lamaran resmi yang ditujukan kepada Raja Cempa.
Perjalanan Menembus Samudra
Patih Gajah Mada menjalankan titah raja dengan sigap. Ia memimpin rombongan berlayar menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal perang. Tanpa menemui hambatan atau rintangan yang berarti, Patih Gajah Mada dan rombongannya tiba di Negeri Cempa dengan selamat.
Sesampainya di istana Negeri Cempa, Patih Gajah Mada menghadap sang raja dan menyerahkan surat titah dari Prabu Brawijaya. Diketahui bahwa Raja Cempa memiliki tiga orang anak: anak sulung dan anak kedua adalah perempuan, sedangkan anak bungsu adalah laki-laki. Setelah membaca dan memahami maksud surat tersebut, Raja Cempa memberikan izin serta merestui putri sulungnya untuk dipinang dan diboyong ke Majapahit.
Pemberian Pusaka dan Perjalanan Kembali ke Majapahit
Persetujuan Raja Cempa tidak hanya diwujudkan dengan merestui pernikahan putri sulungnya, tetapi juga disertai pembekalan benda-benda berharga istana yang menjadi pusaka pengiring keberangkatan sang putri.
Saat Putri Cempa bersiap berangkat menuju Kerajaan Majapahit didampingi oleh Patih Gajah Mada, Raja Cempa menyerahkan tiga hadiah pusaka utama:
- Gong Kyai Sekardalima: Sebuah gong keramat yang menjadi lambang keagungan dan pengiring kehormatan rombongan sang putri.
- Kereta Kyai Balélumur: Sebuah kereta istana (coach) megah yang disediakan khusus untuk perjalanan sang putri.
- Gerobak Sapi Kyai Jebadbètri: Sebuah gerobak/kendaraan yang ditarik oleh lembu (ox cart) untuk mengangkut perlengkapan pendukung.
Kembali ke Istana Majapahit
Setelah seluruh barang pusaka dan rombongan siap, Patih Gajah Mada bersama Putri Cempa bertolak meninggalkan Negeri Cempa. Pelayaran melintasi samudra kembali berjalan lancar tanpa rintangan. Sesampainya di istana Majapahit, Putri Cempa beserta seluruh pusaka pengiringnya dipersembahkan secara khidmat kepada Prabu Brawijaya, mengesahkan pernikahan agung yang diawali dari sebuah penglihatan mimpi.
Rangkuman
Pernikahan antara Prabu Brawijaya dan Putri Cempa mengisahkan bagaimana petunjuk gaib dalam mimpi dapat mengawali jalinan diplomasi antarnegeri yang sukses, yang dieksekusi dengan bijak oleh Patih Gajah Mada serta dibekali pusaka-pusaka bernilai tinggi dari Negeri Cempa.
- Firasat Sang Raja: Prabu Brawijaya bermimpi menikahi Putri Cempa, yang langsung ditindaklanjuti melalui pengiriman utusan resmi.
- Misi Diplomatik Gajah Mada: Patih Gajah Mada berlayar ke Negeri Cempa, menyampaikan surat permohonan, dan berhasil mendapatkan restu Raja Cempa untuk meminang putri sulungnya.
- Tiga Pusaka Istimewa: Keberangkatan Putri Cempa dibekali dengan gong Kyai Sekardalima, kereta Kyai Balélumur, dan gerobak sapi Kyai Jebadbètri.
- Penyelesaian Misi: Rombongan kembali ke Majapahit tanpa halangan dan Putri Cempa resmi dipersembahkan kepada Prabu Brawijaya.
Sumber Bacaan:
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.
