Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Konflik Majapahit vs Giri Kedhaton: Keajaiban Keris Kalammunyeng dan Serangan Lebah Gaib dalam Babad Tanah Jawi

Ulasan konflik Majapahit & Giri Kedhaton, keajaiban Keris Kalammunyeng, serta lebah gaib versi Babad Tanah Jawi Remmelink. Baca di sini!
Ilustrasi konflik Majapahit dengan Giri Kedhaton. (babad.id/Gemini Notebook)
Ilustrasi konflik Majapahit dengan Giri Kedhaton. (babad.id/Gemini Notebook)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Bagaimana jika benturan militer terbesar di Tanah Jawa tidak dimenangkan oleh strategi perang konvensional, melainkan oleh sebuah pena tulisan dan kawanan lebah gaib? 

Dalam lembaran sejarah-mitologis Jawa, perselisihan antara kekuasaan politik Majapahit dan kekuatan spiritual Giri Kedhaton menjadi salah satu episode paling dramatis yang menandai transisi zaman.

Berdasarkan naskah Babad Tanah Jawi versi terjemahan Dr. Willem G.J. Remmelink (Leiden University Press, 2022—menyunting prosa C.F. Winter Sr. KITLV Or 8), peristiwa konflik Majapahit dan Giri bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan penegasan batas kekuatan duniawi saat berhadapan dengan perlindungan gaib.
 

Akar Cemas Prabu Brawijaya terhadap Pesatnya Giri Kedhaton


Seiring meluasnya syiar Islam di pesisir utara Jawa, Giri Kedhaton (Gresik) yang dipimpin oleh Sunan Giri (Prabu Sètmata) tumbuh pesat menjadi pusat keagamaan dan kemasyarakatan. Masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara berbondong-bondong datang untuk menyatakan ketundukan dan menjadi pengikut setia Sunan Giri.

Perkembangan pesat ini memicu keprihatinan mendalam di Istana Majapahit. Raja Majapahit, Prabu Brawijaya, menilai bahwa makin besarnya pengaruh Giri Kedhaton dapat mengancam kedaulatan dan legitimasi politik kerajaan. 

Untuk menumpas ancaman tersebut, Prabu Brawijaya mengutus panglima utamanya, Patih Gajahmada, memimpin pasukan militer besar guna menggempur dan menghancurkan Giri.
 

Invasi Pertama dan Keajaiban Keris Kalammunyeng


Kedatangan mendadak pasukan Majapahit membuat rakyat Giri panik dan berlarian ke dalam kota untuk menyelamatkan diri. Namun, sikap Sunan Giri saat menghadapi kepungan militer sungguh di luar dugaan:
 
  • Pasrah dan Doa: Sunan Giri yang saat itu tengah menulis terkejut mendengar kabar kedatangan musuh. Alih-alih mengangkat senjata, beliau melemparkan pena (kalam) yang digunakannya dan berserah diri dalam doa.
  • Transformasi Ajaib: Pena tulisan yang dilemparkan tersebut secara gaib berubah menjadi sebilah keris pusaka yang melayang di udara. Keris tersebut mengamuk dan menyerang barisan prajurit Majapahit secara mandiri.
  • Kekalahan Majapahit: Banyak prajurit Majapahit tewas tertebas, sementara sisanya lari kocar-kacir kembali ke ibu kota.

Setelah musuh mundur, keris gaib itu terbang kembali dan terbaring di hadapan Sunan Giri dalam kondisi bersimbah darah. 

Sunan Giri berdoa memohon ampunan atas peristiwa tersebut dan menamai keris pusaka itu Kalammunyeng (berasal dari kata kalam = pena, dan munyeng = berputar/mengamuk).

Invasi Kedua, Jatuhnya Giri, dan Keajaiban di Makam


Permusuhan Majapahit tidak berhenti di situ. Sepeninggal Sunan Giri, kepemimpinan Giri dilanjutkan oleh cucunya, Sunan Parapèn. Mendengar kabar duka wafatnya Sunan Giri, Prabu Brawijaya kembali memerintahkan Patih Gajahmada dan putra-putra raja untuk menaklukkan Giri.

Pada serangan kedua ini, pasukan Majapahit berhasil mendesak Giri:
  • Pasukan Giri kalah, Sunan Parapèn terpaksa mengungsi ke wilayah pesisir, dan kota Giri dibakar habis.
  • Putra-putra Prabu Brawijaya mendatangi makam Sunan Giri dan memerintahkan prajuritnya untuk membongkar pusara tersebut. Namun, setiap prajurit yang mencoba menggali mendadak jatuh pingsan.
  • Dua orang juru kunci makam yang menderita kelumpuhan kemudian diancam keris dan dipaksa menggali. Ketika papan penutup peti jenazah diangkat, keajaiban besar terjadi.

Mukjizat Lebah Gaib dan Kapoknya Prabu Brawijaya


Dari dalam makam Sunan Giri, keluar kawanan lebah gaib dalam jumlah tak terhitung. Suara dengungan lebah menggema dahsyat bagaikan langit runtuh, lalu terbang menyerbu prajurit Majapahit.

Pasukan Majapahit lari kocar-kacir, namun kawanan lebah terus mengejar mereka hingga tiba di ibu kota Majapahit. 

Prabu Brawijaya beserta seluruh isi istana bahkan terpaksa mengungsi jauh keluar kota karena tidak mampu mengatasi sengatan lebah ajaib tersebut. Setelah pasukan Majapahit terpukul mundur, kawanan lebah itu terbang kembali ke makam Sunan Giri.

Peristiwa ini membawa dua dampak besar:
  • Kedamaian Abadi: Prabu Brawijaya akhirnya kapok dan bersumpah tidak akan pernah lagi memusuhi atau mengganggu Giri Kedhaton.
  • Kesembuhan Ajaib: Kedua juru kunci yang sebelumnya lumpuh secara ajaib sembuh total dari penyakitnya. Mereka segera mengabarkan berita kemenangan ini kepada Sunan Parapèn di pesisir, hingga Sunan Parapèn kembali dan membangun kembali Giri Kedhaton hingga makmur seperti sediakala.

Makna Filologis Babad Tanah Jawi Remmelink


Melalui rekonstruksi teks Babad Tanah Jawi oleh Willem G.J. Remmelink, narasi ini menyimbolkan pengakuan historiografi tradisional Jawa terhadap pergeseran wahyu kepemimpinan (wahyu keprabon) dari kerajaan Hindu Majapahit menuju pusat-pusat peradaban Islam di pesisir Jawa. ***

Sumber Bacaan: 
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +6285875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com