Gpd6GfWoTSC5TSA9TpCoGUCoBY==
Anda cari apa?

Labels

Legenda Siyungwanara dan Runtuhnya Pajajaran: Dari Bayi Terbuang Hingga Berdirinya Majapahit

Simak kisah legenda Siyungwanara yang sempat dibuang ke sungai. Namun bangkit dan menjadi sebab jatuhnya Raja Pajajaran.

Ilustrasi Siyungwanara. (babad.id/Gemini Notebook)
Ilustrasi Siyungwanara. (babad.id/Gemini Notebook)


BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Bagaimana mungkin sebuah ujian rahasia berbekal kuali tembaga, kutukan seorang pertapa yang terbunuh, dan sebiji buah maja yang pahit mampu meruntuhkan Kerajaan Pajajaran sekaligus melahirkan kemegahan Kekaisaran Majapahit? Di dalam Babad Tanah Jawi, Sejarah Kerajaan Jawa berjalin antara takdir, ilham spiritual, dan balas dendam sedarah yang mengubah peta kekuasaan di Pulau Jawa.

Kelahiran Siyungwanara dan Balas Dendam yang Terbalas

Kisah ini bermula dari rasa penasaran Raja Pajajaran yang ingin menguji kemampuan kewaskitaan seorang pertapa di gunung bernama Ajar Cepaka. Sang Raja mengutus patihnya membawa seorang selir yang perutnya diganjal kuali tembaga agar menyerupai wanita hamil. Saat ditanya, Ajar Cepaka dengan tenang meramalkan bahwa selir tersebut benar-benar sedang mengandung seorang bayi laki-laki.

Sang Raja merasa terolok-olok karena mengira pertapa itu berbohong, lalu memerintahkan agar Ajar Cepaka dihukum mati. Namun, begitu pakaian selir dilepas, kuali tembaga itu lenyap dan sang selir benar-benar hamil! Sebelum wafat, terdengar suara gaib dari Ajar Cepaka yang bersumpah: "Kamu membunuhku padahal aku tidak bersalah. Aku akan membalas dendam padamu kelak melalui seseorang bernama Siyungwanara."

Ketakutan sang Raja terbukti ketika bencana wabah melanda Pajajaran. Ahli nujum istana menyarankan agar Raja menggelar pesta besar dan tidur bersama selir tersebut sebagai penawar wabah, tetapi mengingatkan bahwa kelak anak yang lahir akan membunuh ayahnya sendiri. Begitu bayi itu lahir, sang Raja mencoba meracuninya, tetapi racun itu tidak mempan. Karena dihalangi para inang pengasuh untuk membunuhnya secara langsung, bayi tersebut dimasukkan ke dalam peti dan dihanyutkan ke Sungai Krawang.

Peti hanyut itu ditemukan oleh seorang nelayan bernama Kyai Buyut Krawang dan istrinya, Nyai Buyut. Anak itu dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ketika beranjak dewasa, ia berkelana ke hutan dan melihat seekor kera (wanara) dan burung siyung. Dari sanalah ia mengambil namanya sendiri: Siyungwanara.

Perjalanan Siyungwanara berlanjut ke rumah seorang tukang besi di Pajajaran. Di sana, ia memamerkan kesaktian yang luar biasa: menempa besi menggunakan lututnya sebagai paron (landasan), tinjunya sebagai palu, dan jari-jarinya sebagai penjepit! Kehebohannya berlanjut saat gajah istana bertekuk lutut di hadapannya, serta ketika ia menduduki bangku kayu sawo magis di dalam istana yang berbunyi nyaring seperti gamelan.

Melihat kesaktian Siyungwanara yang tak tertandingi, sang Raja—yang tidak menyadari bahwa itu adalah putranya sendiri—sangat kagum. Raja mengangkatnya menjadi pejabat istana bergelar Arya Banyakwidhé, memberinya tanah apanage seluas 10.000 karya, serta mengadopsinya sebagai anak.

Persaingan Dua Saudara dan Jatuhnya Raja Pajajaran

Setelah memegang kekuasaan dan kepercayaan istana, Arya Banyakwidhé (Siyungwanara) mulai menjalankan rencana balas dendam atas penderitaannya sewaktu bayi. Ia memerintahkan para tukang besi membuat sebuah balai atau tempat tidur besi (bale wesi) yang megah dan dilengkapi pintu terkunci.

Arya Banyakwidhé kemudian membujuk sang Raja untuk mencoba balai besi tersebut dengan dalih sebagai tempat beristirahat yang berkhasiat menyembuhkan penyakit dan menyegarkan tubuh. Begitu Raja berbaring di dalamnya, Arya Banyakwidhé langsung mengunci pintunya dan memerintahkan para pelayan membuang balai besi itu ke dalam Sungai Krawang—sebuah pembalasan setimpal atas perlakuan Raja terhadap dirinya di masa lalu.

Peristiwa tragis ini memicu kemarahan putra Raja lainnya, yaitu Radèn Susuruh. Pertempuran sengit meletus antara pasukan Radèn Susuruh dan Arya Banyakwidhé. Dalam duel yang terjadi, Arya Banyakwidhé melepaskan anak panah yang tepat mengenai dan memotong sabuk (sash) Radèn Susuruh. Merasa terdesak dan terhina, Radèn Susuruh memilih mundur dan melarikan diri ke arah timur.

Radèn Susuruh tiba di desa Kaligunting dan diangkat anak oleh seorang janda yang memiliki tiga saudara laki-laki: Ki Wiro, Ki Nambi, dan Ki Bandar. Sementara itu, Arya Banyakwidhé menobatkan dirinya sebagai Raja Pajajaran yang baru dan mengeluarkan maklumat keras: barangsiapa yang melindungi Radèn Susuruh akan ditimpa bencana besar. Takut membawa petaka bagi keluarga janda di Kaligunting, Radèn Susuruh memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya.

Pelarian Radèn Susuruh dan Ramalan Berdirinya Majapahit

Radèn Susuruh melangkah menuju Gunung Kombang didampingi sang janda, tiga saudaranya, serta sekitar seratus orang pengikut. Di Gunung Kombang, hidup seorang pertapa sakti bernama Ajar Cemaratunggal yang menguasai seluruh mahluk halus di Pulau Jawa.

Sesungguhnya, Ajar Cemaratunggal bukanlah pertapa biasa. Ia adalah seorang putri dari Pajajaran (bibi dari kakek Radèn Susuruh) yang menolak menikah dan melarikan diri ke hutan yang hanya ditumbuhi sebatang pohon cemara. Ketika Radèn Susuruh datang, Ajar Cemaratunggal memberikan petunjuk spiritual yang sangat krusial:

  1. Arah Perjalanan: Radèn Susuruh diinstruksikan berjalan lurus ke arah timur.
  2. Tanda Lokasi: Ia harus mencari sebuah pohon maja yang hanya memiliki satu buah, dan buah tersebut rasanya pahit di dalam.
  3. Nubuat Kerajaan: Tempat tersebut kelak akan menjadi kota besar bernama Majapahit, di mana Radèn Susuruh akan menjadi penguasanya dan menurunkan raja-raja yang memerintah seluruh Pulau Jawa.

Saat Ajar Cemaratunggal berubah kembali ke wujud aslinya sebagai wanita yang sangat jelita, Radèn Susuruh jatuh cinta dan mencoba memeluknya. Namun, sang putri mendadak lenyap dan kembali ke wujud pertapa.

Ajar Cemaratunggal berpesan bahwa mereka akan bertemu kembali di masa depan. Sang putri akan pindah ke Laut Pasir (Pamantingan), menjadi ratu yang menguasai seluruh roh halus (motif Ratu Kidul), dan menjadi pasangan dari setiap penguasa Jawa keturunan Radèn Susuruh. Bila Radèn Susuruh menghadapi kesulitan di kemudian hari, ia hanya perlu memanggilnya, dan pasukan roh halus akan datang membantu.

Dengan memegang teguh petunjuk spiritual tersebut, Radèn Susuruh melanjutkan perjalanan menuju wilayah Singasari, menemukan pohon maja yang dimaksud, dan membangun cikal bakal Kekaisaran Majapahit yang kelak akan membalas kekalahan Pajajaran.

Ringkasan

Legenda Siyungwanara dan pelarian Radèn Susuruh menggambarkan bagaimana takdir, ilham spiritual, dan konflik sedarah berjalin membentuk sejarah dalam Babad Tanah Jawi. Keruntuhan takhta Pajajaran akibat pembalasan dendam Siyungwanara justru menjadi batu pijakan penting bagi lahirnya dinasti agung Majapahit di timur Jawa.

  • Takdir yang Terbuang: Siyungwanara lahir dari ramalan Ajar Cepaka, dibuang ke Sungai Krawang, lalu bangkit menjadi pejabat sakti bergelar Arya Banyakwidhé.
  • Pembalasan Dendam Setimpal: Arya Banyakwidhé mengurung Raja Pajajaran di dalam balai besi dan membuangnya ke sungai sebagai balasan atas perlakuan masa kecilnya.
  • Konflik Sedarah: Pertempuran antara Arya Banyakwidhé dan Radèn Susuruh memaksa sang pangeran melarikan diri bersama pengikutnya menuju timur Jawa.
  • Nubuat Majapahit: Petunjuk gaib dari Ajar Cemaratunggal di Gunung Kombang mengarahkan Radèn Susuruh menemukan pohon maja berbuah pahit, yang menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Majapahit.

0Komentar

Tambahkan komentar

Info

  • Griya Lestari D3 12A, Ngaliyan, Kota Semarang
  • +6285875035147
  • redaksibabad.id@gmail.com