Ramalan Sang Ajar dan Takdir di Gunung Kombang
Kisah pengasasan Majapahit tidak dapat dipisahkan dari konflik politik dan nubuatan gaib di Kerajaan Pajajaran. Semuanya bermula ketika Raja Pajajaran berusaha menguji keahlian menembus masa depan milik seorang pertapa bernama Ajar Cepaka.
Raja menyuruh patihnya membawa seorang selir yang perutnya diganjal kuali kuningan besar agar tampak hamil, lalu meminta Ajar Cepaka menebak jenis kelamin bayi tersebut. Sang Ajar dengan tenang meramalkan bahwa wanita itu mengandungkan seorang bayi laki-laki. Raja tertawa senang karena menganggap sang pertapa telah tertipu. Namun, ketika pakaian selir dilepas, kuali kuningan tersebut telah lenyap secara ajaib dan sang selir benar-benar hamil. Raja yang murka dan malu lantas memerintahkan agar Ajar Cepaka dibunuh. Sebelum gugur, suara tanpa rupa bergema mengutuk raja, menyatakan bahwa dendam sang pertapa akan dibalaskan oleh seseorang bernama Siyungwanara.
Ramalan itu terbukti. Siyungwanara (yang kemudian bergelar Arya Banyakwidhe) tumbuh dewasa, menguasai ilmu besi, dan berhasil membalas dendam dengan memasukkan Raja Pajajaran ke dalam peti besi lalu membuangnya ke Sungai Krawang. Putra raja, Raden Susuruh, berusaha melawan Arya Banyakwidhe namun kalah pertempuran setelah terkena tembakan panah yang menembus kain sampingnya. Raden Susuruh melarikan diri ke timur dan berlindung di desa Kaligunting pada rumah seorang janda tua.
Karena Arya Banyakwidhe menjadi raja Pajajaran baru dan melarang siapa pun melindungi Raden Susuruh, sang janda beserta tiga saudaranya (Ki Wiro, Ki Nambi, dan Ki Bandar) serta sekitar 100 pengikut memutuskan ikut melarikan diri bersama Raden Susuruh menuju Gunung Kombang.
Di Gunung Kombang, mereka bertemu pertapa sakti bernama Ajar Cemaratunggal. Sang Ajar sejatinya adalah bibi dari Raden Susuruh sendiri—seorang putri Pajajaran yang menolak menikah dan memilih mengasingkan diri serta menguasai para roh halus di Tanah Jawa. Ajar Cemaratunggal memberikan petunjuk arah yang sangat spesifik untuk masa depan Raden Susuruh:
"Berjalanlah lurus ke arah timur. Ketika engkau mendapati pohon maja yang hanya memiliki satu buah dan berasa pahit di dalamnya, mukimlah di sana. Tempat itu kelak akan menjadi kota besar, dan engkau akan menjadi penguasanya serta cikal bakal raja-raja Jawa."
Perjalanan Ke Timur dan Penemuan Buah Maja Pahit
Berbekal petunjuk nubuatan dari Ajar Cemaratunggal, Raden Susuruh beserta 100 pengikut setianya melangkah meninggalkan Gunung Kombang menuju arah timur, mengarungi belantara wilayah Singasari.
Di tengah perjalanan hutan yang lebat, rombongan ini berhenti di bawah sebatang pohon maja. Raden Susuruh mengamati hal yang tidak biasa: pohon tersebut hanya memiliki satu butir buah. Mengingat kembali amanat sang pertapa, ia memerintahkan pengikutnya untuk memetik buah tersebut. Ketika dicicipi, bagian dalam buah maja itu terasa sangat pahit.
Yakin bahwa tempat inilah yang ditunjukkan oleh takdir, Raden Susuruh segera mendirikan permukiman di lokasi tersebut dan menamakannya Desa Majapahit—sebuah nama yang diambil langsung dari fenomena buah maja yang pahit.
Proses pembatatan (pembukaan) hutan ini dilakukan secara bergotong royong oleh Raden Susuruh, Ki Wiro, Ki Nambi, Ki Bandar, dan seluruh pengikut Kaligunting. Mereka memfokuskan diri pada sektor pertanian. Berkat kesuburan tanah dan kepemimpinan Raden Susuruh yang bijaksana, kabar mengenai permukiman baru ini tersebar luas. Orang-orang dari berbagai penjuru berbondong-bondong datang untuk menetap dan bertani, hingga dalam waktu singkat desa kecil di tengah hutan itu bertransformasi menjadi sebuah kota besar yang makmur dan tersohor.
Pondasi Awal Kejayaan Dinasti Majapahit
Keberhasilan membuka desa Majapahit menjadi batu pijakan bagi Raden Susuruh untuk merebut kembali legitimasi kekuasaan di Tanah Jawa. Tak lama setelah Majapahit berkembang pesat, Arya Bangah (raja Galuh yang juga saudara tua Raden Susuruh) datang meminta perlindungan setelah kerajaannya dihancurkan oleh Pajajaran.
Kedua bersaudara ini bersekutu dan menyusun kekuatan militer bersama masyarakat Majapahit. Mereka melancarkan ekspedisi perang melawan Pajajaran dan berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Setelah Pajajaran ditundukkan, Raden Susuruh resmi naik takhta sebagai Raja Majapahit, dan seluruh rakyat Tanah Jawa menyatakan ketundukan kepadanya.
Sebagai pemimpin yang menghargai jasa dan kesetiaan, Raden Susuruh membagikan porsi kekuasaan dan merestrukturisasi pemerintahan awal Majapahit:
- Arya Bangah berganti nama menjadi Arya Panular.
- Ki Wiro dinaikkan pangkatnya menjadi perdana menteri dengan gelar Patih Wahan.
- Ki Bandar dan Ki Nambi diangkat menjadi pejabat tinggi (punggawa) kerajaan.
Dari takhta Majapahit inilah Raden Susuruh melahirkan penerus dinasti, dimulai dari putranya Prabu Anom (Adi-ningkung), yang kelak terus menurunkan raja-raja penguasa Jawa. Dengan demikian, penderitaan pelarian dan rasa pahit buah maja berhasil diubah menjadi fondasi salah satu kerajaan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.
Ringkasan
Pengasasan Majapahit oleh Raden Susuruh menggambarkan bagaimana sebuah musibah kekalahan perang dapat diubah menjadi kebangkitan imperium baru melalui kepatuhan pada nubuatan spiritual, ketangguhan kerja keras membuka hutan, serta struktur penghargaan bagi pengikut setia.
- Nubuatan Spiritual sebagai Arah: Petunjuk Ajar Cemaratunggal di Gunung Kombang memberikan kepastian arah geografis (ke timur) dan penanda spesifik (pohon maja berbuah satu yang pahit) bagi Raden Susuruh.
- Transformasi Berbasis Agraris: Pembukaan Hutan Majapahit diawali dari sektor pertanian yang dikerjakan secara kolektif bersama 100 pengikut setia dari Kaligunting hingga menjadi kota yang makmur.
- Konsolidasi Politik & Rekonsiliasi: Aliansi Raden Susuruh dengan saudaranya, Arya Bangah dari Galuh, memungkinkan penyatuan kekuatan untuk menundukkan Pajajaran.
- Meritokrasi Awal: Pengangkatan Ki Wiro menjadi Patih Wahan serta Ki Nambi dan Ki Bandar sebagai pejabat menunjukkan penghargaan Raden Susuruh terhadap kesetiaan sejak masa-masa terpuruk.
Sumber Bacaan:
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.
