Asal-usul Arya Dilah dan Pengangkatan Raja Palembang
Kisah permulaan hubungan erat antara Majapahit dan Palembang berakar dari sosok Ki Dilah (Arya Dilah).
Dalam Babad Tanah Jawi, Ki Dilah adalah putra dari raja Majapahit, Prabu Brawijaya, dengan Èndhang Sasmitapura, seorang raksasi wanita yang bertapa dan mengubah wujudnya menjadi wanita yang sangat cantik.
Ketika tumbuh remaja, Ki Dilah bertekad mengabdi kepada ayahnya di Majapahit.
Ketika tumbuh remaja, Ki Dilah bertekad mengabdi kepada ayahnya di Majapahit.
Untuk membuktikan kemampuannya, Ki Dilah mengajukan janji yang tidak biasa kepada raja: Prabu Brawijaya tidak perlu repot berburu ke hutan, sebab Ki Dilah berjanji akan menggiring semua jenis binatang hutan langsung ke Alun-alun Majapahit.
Dengan bantuan ibunya di hutan, Ki Dilah berhasil mengumpulkan beragam satwa liar dan menggiring semuanya ke Alun-alun Majapahit.
Dengan bantuan ibunya di hutan, Ki Dilah berhasil mengumpulkan beragam satwa liar dan menggiring semuanya ke Alun-alun Majapahit.
Keberhasilan ini membuat Prabu Brawijaya sangat gembira dan kagum.
Atas jasanya, Ki Dilah dinaikkan pangkatnya dan dilantik menjadi raja di Palembang dengan gelar Arya Damar, serta diberi sepuluh ribu pengikut.
Pengangkatan ini menjadi pilar utama yang menempatkan Palembang sebagai wilayah kekuasaan penting di bawah naungan dinasti Majapahit.
Siasat Putri Tionghoa dan Perintah Rahasia Prabu Brawijaya
Saat Arya Damar bertahta di Palembang, dinamika politik dan asmara bergejolak di istana Majapahit.
Prabu Brawijaya menikahi seorang Putri Tionghoa (Putri Cina).
Namun, pernikahan ini memicu kecemburuan mendalam dari permaisuri utamanya, yaitu Putri Cempa.
Sang permaisuri menangis dan menolak dimadu, bahkan mengancam akan kembali ke negerinya jika Putri Tionghoa tidak disingkirkan.
Karena rasa cintanya yang besar kepada Putri Cempa, Prabu Brawijaya mengambil keputusan strategis.
Karena rasa cintanya yang besar kepada Putri Cempa, Prabu Brawijaya mengambil keputusan strategis.
Ia mengutus patihnya, Patih Gajahmada, untuk membawa Putri Tionghoa yang saat itu sedang hamil dan menyerahkannya kepada Arya Damar.
Patih Gajahmada menemui Arya Damar di Gresik dan menyerahkan Putri Tionghoa beserta sebuah surat rahasia dari Prabu Brawijaya. Surat tersebut memuat perintah khusus:
Patih Gajahmada menemui Arya Damar di Gresik dan menyerahkan Putri Tionghoa beserta sebuah surat rahasia dari Prabu Brawijaya. Surat tersebut memuat perintah khusus:
- Putri Tionghoa diberikan kepada Arya Damar untuk dijadikan istri.
- Namun, karena sang putri sedang mengandung anak Prabu Brawijaya, Arya Damar dilarang menyetubuhinya sampai sang putri melahirkan bayinya.
Kelahiran Raden Patah dan Raden Husen di Palembang
Di Palembang, amanat Prabu Brawijaya dilaksanakan dengan tertib. Putri Tionghoa melahirkan putra dari kandungannya dengan Prabu Brawijaya, yang diberi nama Raden Patah.
Setelah bayi lahir dan masa pemulihan selesai, Arya Damar baru menikahi Putri Tionghoa secara penuh.
Dari pernikahan Arya Damar dengan Putri Tionghoa, lahirlah putra kedua yang diberi nama Raden Husen.
Dengan demikian, Raden Patah dan Raden Husen adalah saudara seibu beda ayah—Raden Patah berdarah raja Majapahit, sedangkan Raden Husen berdarah adipati Palembang.
Ketika kedua putra tersebut tumbuh dewasa, Arya Damar berniat pensiun untuk bertapa.
Ketika kedua putra tersebut tumbuh dewasa, Arya Damar berniat pensiun untuk bertapa.
Ia hendak menyerahkan kepemimpinan Palembang kepada Raden Patah dan mengangkat Raden Husen sebagai patihnya.
Namun, Raden Patah merasa belum siap dan enggan bertahta.
Pada suatu malam, Raden Patah melarikan diri dari Palembang menuju hutan. Raden Husen yang mendapati kakaknya menghilang segera menyusul secara diam-diam.
Kedua bersaudara ini akhirnya bertemu di tepi danau dan sepakat berlayar ke Tanah Jawa untuk menuntut ilmu serta mengadu nasib.
Kedua bersaudara ini akhirnya bertemu di tepi danau dan sepakat berlayar ke Tanah Jawa untuk menuntut ilmu serta mengadu nasib.
Hubungan Persaudaraan Palembang dan Jawa: Dari Terung hingga Kesultanan Demak
Setibanya di Jawa, Raden Patah dan Raden Husen berguru kepada Sunan Ampeldenta di Surabaya dan memeluk agama Islam. Jalur pengabdian kedua bersaudara ini kemudian bercabang:
- Raden Husen memilih masuk ke istana Majapahit untuk mengabdi kepada Prabu Brawijaya. Pengabdiannya diterima dan ia diangkat menjadi bupati di Terung.
- Raden Patah menolak mengabdi pada raja yang belum memeluk Islam. Atas petunjuk Sunan Ampel, Raden Patah berjalan ke arah barat hingga menemukan hutan bergelagah harum bernama Bintara. Di sana ia mendirikan pemukiman yang kelak berkembang pesat menjadi kota Demak.
Ketika kabar tentang kemajuan Bintara terdengar di Majapahit, Prabu Brawijaya mengutus Adipati Terung (Raden Husen) untuk memanggil penguasanya. Raden Husen pun menjemput kakak kandungnya.
Saat Raden Patah menghadap di Majapahit, Prabu Brawijaya sangat gembira karena melihat kemiripan rupa Raden Patah dengan dirinya.
Sang raja secara resmi mengakui dan mengadopsi Raden Patah sebagai putranya, memberinya gelar Adipati Bintara serta sepuluh ribu kaula.
Prabu Brawijaya bahkan meramalkan bahwa Bintara (Demak) kelak akan menjadi pusat penyiaran Islam di Jawa.
Kisah ini menegaskan ikatan dinasti dan persaudaraan erat yang menghubungkan Palembang, Majapahit, dan berdirinya Kesultanan Demak.
Kisah ini menegaskan ikatan dinasti dan persaudaraan erat yang menghubungkan Palembang, Majapahit, dan berdirinya Kesultanan Demak.
Ringkasan
Kisah Arya Dilah, Putri Tionghoa, serta lahirnya Raden Patah dan Raden Husen di Palembang menunjukkan bahwa Palembang memegang peranan krusial dalam historiografi Jawa. Hubungan darah dan amanat rahasia antara Prabu Brawijaya dan Arya Damar menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan kejayaan Majapahit dengan fajar baru Kesultanan Demak.
- Arya Dilah (Arya Damar): Putra Prabu Brawijaya dan Endhang Sasmitapura yang membuktikan kesetiannya dengan menggiring hewan hutan ke Alun-alun Majapahit, lalu dilantik menjadi penguasa Palembang.
- Amanat Rahasia Putri Tionghoa: Prabu Brawijaya menyerahkan Putri Tionghoa yang sedang hamil kepada Arya Damar dengan syarat dilarang ditiduri hingga sang putri melahirkan.
- Raden Patah & Raden Husen: Raden Patah lahir sebagai putra Prabu Brawijaya, sedangkan Raden Husen adalah putra Arya Damar. Keduanya tumbuh bersama di Palembang sebagai saudara seibu.
- Jembatan Palembang-Jawa: Pengembaraan kedua bersaudara ke Jawa berbuah manis; Raden Husen menjadi Adipati Terung di Majapahit, sedangkan Raden Patah diakui sebagai putra Prabu Brawijaya dan dilantik menjadi Adipati Bintara (Demak).
Sumber Bacaan:
Remmelink, W. (Ed. & Trans.). (2022). Babad Tanah Jawi – The chronicle of Java: The revised prose version of C.F. Winter Sr. (KITLV Or 8). Leiden University Press.
