Benih Pertumbuhan di Hutan Bintara dan Nubuat Prabu Brawijaya
Kisah berdirinya Kesultanan Demak berakar dari hubungan darah antara penguasa puncak Majapahit dan pendiri Demak. Radèn Patah (Sénapati Jimbun) merupakan putra dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya, dari seorang putri berdarah Tionghoa.
Setelah mendalami ajaran Islam, Radèn Patah membuka pemukiman baru di kawasan Hutan Bintara yang ditumbuhi rumput gelagah harum. Berkat kepemimpinan dan daya tarik spiritualnya, Bintara berkembang pesat menjadi wilayah yang ramai dan makmur.
Kabar pesatnya Bintara sampai ke Istana Majapahit. Prabu Brawijaya mengutus Adipati Terung untuk memanggil Radèn Patah.
Dalam momen tersebut, Prabu Brawijaya menyampaikan sebuah nubuat bersejarah: pemukiman Bintara kelak akan tumbuh menjadi kota besar bernama Demak, tempat berawalnya pengislaman di seluruh tanah Jawa.
Keretakan Hubungan dan Alasan Agama
Ketaatan Radèn Patah berjalan selama beberapa waktu, hingga akhirnya tiga tahun berlalu tanpa dirinya datang menghadap (seba) ke Majapahit. Prabu Brawijaya yang merasa diabaikan kembali mengutus Adipati Terung membawa 10.000 prajurit ke Bintara untuk menanyakan alasan di balik sikap tersebut.Kepada Adipati Terung, Radèn Patah menyampaikan alasan yang sangat mendasar:
Adanya larangan agama (syariat Islam) yang tidak memperbolehkan seorang Muslim untuk menyatakan tunduk dan menyembah kepada penguasa yang belum beriman (non-Muslim).
Adipati Terung memahami prinsip tersebut dan memilih untuk berpihak serta membantu perjuangan kakaknya. Maka, dihimpunlah koalisi kekuatan Muslim dari seluruh penjuru Jawa, mencakup Bupati Madura, Arya Téja dari Tuban, Bupati Surabaya, para ulama Giri, serta para Wali Sanga beserta pasukannya. Pasukan gabungan yang sangat besar ini berbaris menuju Majapahit dan mengepung ibu kota.
Momen Prabu Brawijaya Muksa dan Melesatnya Wahyu Keprabon
Pasukan Bintara memasuki Alun-alun Majapahit tanpa mendapat perlawanan berarti. Radèn Patah duduk di bangunan Pagelaran istana dikelilingi pasukannya. Ketika Patih Gajahmada melaporkan kedatangan pasukan Bintara, Prabu Brawijaya naik ke menara panggungan (lookout tower) untuk melihat putranya.Menyadari bahwa masa kekuasaannya telah berakhir, Prabu Brawijaya beserta para pengikut setianya memilih untuk muksa (naik ke langit).
Tepat pada saat Prabu Brawijaya muksa, terjadi fenomena gaib di atas istana Majapahit:
- Melesat seberkas pendar cahaya menyerupai bola api (wahyu keprabon ) dari dalam istana.
- Cahaya tersebut menyambar bagaikan petir disertai suara gemuruh yang dahsyat, lalu terbang melayang dan jatuh menetap di Bintara.
Masa Transisi 40 Hari Sunan Giri dan Penobatan Sultan Demak
Setelah Majapahit kosong, Sunan Ampèldenta memberikan nasihat strategis dan spiritual kepada Radèn Patah. Radèn Patah disarankan tidak langsung menaiki takhta Majapahit. Sebagai gantinya, Sunan Giri diminta menjadi raja sementara di Majapahit selama 40 hari. Langkah interregnum ini bertujuan untuk meruwat dan menyucikan bekas-bekas peninggalan penguasa sebelumnya dari unsur-unsur non-Muslim.
Setelah masa 40 hari genap, Sunan Giri menyerahkan kekuasaan secara resmi kepada Radèn Patah. Radèn Patah dinobatkan sebagai Sultan pertama di Demak yang bertahta atas seluruh tanah Jawa, dengan gelar kebesaran: Sénapati Jimbun Abdurahman Panembahan Palémbang Sayidin Panatagama.
Untuk menopang roda pemerintahan, Ki Wanapala diangkat menjadi patih kerajaan dengan gelar Mangkurat.
Simbol Legitimasi: Saka Tatal dan Ageman Antakusuma
Penobatan Sultan Demak disusul dengan konsolidasi spiritual oleh para Wali Sanga:- Pembangunan Masjid Agung Demak: Para wali membagi tugas pembangunan masjid. Sunan Kalijaga yang sempat terlambat karena melakukan ziarah, mengumpulkan sisa-sisa tatal kayu (wood-shavings) lalu mengikatnya hingga secara ajaib menjadi tiang utama yang kokoh (Saka Tatal).
- Baju Sakral Antakusuma: Saat para wali berzikir di dalam masjid, turun sebuah bungkusan gaib berbahan kulit kambing dari langit yang berisi sejadah dan selendang Nabi. Bungkusan tersebut jatuh di pangkuan Sunan Kalijaga. Oleh Sunan Kalijaga, bahan tersebut dijahit menjadi rompi/jaket sakral dinamai Kyai Gondhil atau Antakusuma, yang kelak menjadi ageman wajib raja-raja Jawa saat bertakhta atau memimpin perang.
- Pusaka Keris Ki Sura: Sunan Bonang memerintahkan seorang empu dari Tuban bernama Ki Sura untuk mempopulerkan keris pusaka bertipe Sangkelat dan Pasopati sebagai lambang perlindungan negara.
